by

Benarkah Musik Haram?

Tapi Sayyidina Umar mengambil kerikil sambil berkata, “Apa yang kalian lakukan dalam masjid.” Lalu Rasulullah bersabda, “Wahai Umar, ini hari raya.” Kalau dalam riwayat lain Rasulullah bersabda, “Wahai Umar mereka ini suku Anjasyah,” maksudnya ini budaya mereka.

Sebenarnya orang Arab Makkah, tidak mengenal budaya menari di tempat yang disucikan, seperti orang Afrika yang memiliki budaya menari di tempat yang mereka muliakan. Ini merupakan pesan Rasulullah kepada Umar untuk menghargai budaya orang lain. Teguran Rasul terhadap Umar ini mengandung pesang, salah satunya agar orang yahudi tahu bahwa agama Islam itu fleksibel. Menghormati ‘urf (tradisi) termasuk dalam ajaran Islam.

Dalam riwayat lain diceritakan Rasulullah menoleh pada aisyah yang tengah berada di kamarnya, beliau berkata, “Wahai aisyah apa kamu mau menonton pertunjukan mereka?” Aisyah berkata, “Iya rasulullah aku mau menonton mereka.” Rasulullah berdiri di pintu dan Aisyah berdiri di belakangnya sambil menonton lalu selang beberapa saat Rasulullah menoleh, “Apa cukup Asiyah?” Aisyah menggeleng, “Belum Rasulullah saya masih mau menonton.”

Aisyah menceritakan dalam riwayat tersebut, “‘sampai aku bosen,’ Sedang Rasulullah masih berdiri, kemudian aku letakkan pipiku di bahu Rasulullah lalu Rasulullah membawaku masuk ke kamar.”
Berdasarkan riwayat-riwayat di atas, jelas Habib Ali al-Jufry, terdapat lebih dari 30 para imam ulama besar Ahli Sunnah wal Jamaah dari empat madzhab yang berpendapat bahwa mendengarkan alat musik hukumnya tidak bergantung pada alatnya. Akan tetapi hukumnya tergantung pada efek yang timbul pada yang mendengarkan itu.

“Jika mendengarkan alat musik tersebut berdampak positif pada diri orang tersebut maka mendengarkannya pun positif,” jelasnya.

Salah satu ulama yang berpendapat demikian di antaranya Imam Ghazali, salah satu ulama terbesar, pakar fikih dalam madzhab syafi’i. Seorang ulama yang telah melahirkan banyak karya di antaranya kitab al-Basith, al-Wasith, al-Wajiz. Bahkan beliau punya kitab al-Mustasyfa dalam bidang ushul fiqih yang terbilang sebagai kitab ushul terkuat dalam madzhab syafi’i.

Sejumlah ulama besar juga berpendapat demikian, “lalu apakah ini ajakan terbuka untuk kaum milenial agar mendengarkan lagu? tidak, tapi ini ajakan untukku dan untukmu agar tidak menyempitkan hal yang luas,”

Habib Ali Al-Jufri berharap agar umat Muslim mengambil dari luasnya perbedaan para ulama ini untuk menumbuhkan kepekaan dalam diri. Boleh mengikuti pendapat ulama yang membolehkan mendengarkan musik selama berdampak baik, dengan tujuan untuk memantau kepekaan diri. Terlebih jika lagunya berlirik; Dia memanggilku aku menjawabNya, aku datangi pintuNya, saat Dia pancarkan cahayaNya ku panggil dia dengan air mataku. (Lagu Ummi Kulsum)

Jadi sebelum memutuskan tentang hukum haramnya musik, maka perlu diketahui bahwa orang yang mendengarkan musik itu ada tiga tipe. Pertama tipe komposer, mereka yang setiap mendengar musik telinganya selalu fokus pada notasi, apakah nada, kord, dan harmoni antara alat musiknya menyatu atau tidak.

Kedua tipe yang menghayati makna. Menghayati makna tersebut bisa menggerakkan hatinya untuk rindu kepada Allah yang menciptakan keindahan yang terdengar dari gabungan suara alat musik dengan suara manusia. “Bahkan mendengarkan lagu itu tidak haram jika itu menjadi perantara kembalinya seseorang yang nyaris putus dengan tunangannya,” jelas Habib Ali.

Ketiga tipe pendengar yang karena mendengarkan musik ia jatuh pada larangan agama. Seperti berzina dan mabuk-mabukan. Yang mana itu alasan sebagian ulama mengharamkan musik. Sebab dahulu umumnya pada masa para ulama tersebut musik identik dengan miras dan praktek seksual.
Ingat

Yang dilarang adalah jika suara dan alunan serta getaran musiknya itu berdampak negatif bagi orang yang mendengarkan, maka mendengarkan musik menjadi haram dalam keadaan yang seperti itu.

Itu sebab ada sebagian ulama terdahulu yang menghramkan. Meski nyatanya tidak ada satupun hadis yang shahih yang mengharamkan alat musik dan itu diakui oleh empat madzhab. Garis besarnya, ini masalah yang sangat luas maka jangan sempitkan hal yang luas. Wallahu’alam.

Sumber : Video Youtube keterangan Syekh Ali Jufri Al Yamani

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed