by

Belajar Geopolitik Untuk Para Kader PKS

Di saat Iran dan Suriah (yang dikafir2kan para muslim konservatif dalam negeri) saling jual beli serangan militer melawan Israel, Turki (yang dipuja2 para muslim konservatif dalam negeri) hanya jual beli usir-usiran Diplomat dengan Israel. Ya, mungkin para kader PKS akan melihat ini sebagai ‘nilai plus’ Turki dari yang lain. Di saat Turki saling usir Diplomat dengan Israel, Iran, Suriah dan Indonesia kemana? Titik! #KaderPKSMenang

Ya bagaimana mau mengusir, ketiga negara ini sejak dulu memang tidak pernah membuka Kedubes Israel di negeri masing-masing, apalagi memelihara Diplomat Zionis di negeri mereka. Adegan pengusiran yang diblow-up ini justru sebuah pengakuan bahwa negeri yang mereka puja justru saling memiliki Kedubes dan Komjen dengan negeri Zionis tersebut.

Bagaimana peran Indonesia di KTT OKI terakhir?

Setelah menyindir negara-negara muslim seperti Turki, Yordania dan Mesir yang memiliki hubungan Diplomatik dengan Israel di KTT Luar Biasa OKI Desember 2017 lalu, kemarin (Jum’at) Indonesia kembali menyerukan aksi boikot terhadap produk Israel dalam pertemuan tingkat Menteri KTT OKI (Hal ini sudah diserukan Indonesia sejak 2016). Seruan yang lagi-lagi ‘menampar’ Turki yang hanya sibuk melakukan ‘lip service’ dan kutukan-kutukan normatif tanpa aksi konkret.

Nama Recep Tayyep Erdogan tiba-tiba booming sejak 2009 di kalangan muslim dalam negeri sejak pertengkarannya dengan Presiden Israel Simon Peres di World Economic Forum di Davos Swiss, saat itu Erdogan menyebut Peres sebagai pembunuh dan ia melakukan aksi walk out dari Forum. Sejak itu, Erdogan menjadi idola baru para muslim afiliasi Ikhwanul Muslimin disini dan namanya menjadi terang benderang sebagai ikon perlawanan terhadap Israel, jauh lebih terang daripada Iran yang sudah lebih 35 tahun menyuplai persenjataan dan logistik pada Hamas, Jihad Islam Palestina, dan PFLP karena (sialnya) mereka Syi’ah, atau Suriah yang di saat seluruh negara Teluk mengucilkan Hamas justru Suriah membukakan kantor Pusat Hamas di ibukota Damaskus dan menyuplai senjata dan perlindungan Diplomatik bagi mereka.

Balik ke Turki, meskipun terlibat saling tengkar dan ‘gigit’ di depan khalayak, tapi tampaknya itu tak mempengaruhi bisnis kedua negara. Hari ini saya membaca tulisan terbaru kolumnis Turki Cengiz Candar di Al Monitor yang berjudul “Turkey and Israel: Barking, Biting, but Still Doing Business” dimana ia mengungkap data selain perdagangan ekspor dan impor tak banyak terpengaruh, Turki merupakan destinasi utama wisatawan Israel. Pada 2008 tercatat sekitar 550.000 wisatawan Israel yang bertamasya ke Turki, walau sempat menurun menjadi 79.000 pasca insiden Gaza Flotilla, tahun kemarin angka meningkat menjadi 380.000 setelah kedua negara menormalisasi hubungan. Baca: https://www.al-monitor.com/…/turkey-israel-diatribe-biting-…

Dari data yang saya dapat dari website Trading Economics Ekspor Turki ke Israel justru menyentuh angka tertinggi 301,19 Juta USD pada bulan Desember 2016 dan mencapai angka 1,449.39 Miliar USD sejak Juli – Desember 2016. Baca: https://tradingeconomics.com/turkey/exports-to-israel

Jangan lupa, Turki adalah satu-satunya negara muslim yang masuk dalam ‘Top 10’ mitra dagang utama Israel. Lihat datanya di Globaledge UN Comtrade https://globaledge.msu.edu/countries/israel/tradestats

Sejak awal Maret 2017 atau 6.5 tahun pasca tragedi Mavi Marmara, Dubes Israel untuk Turki mengatakan volume perdagangan bilateral antara Turki dan Israel akan meningkat menjadi 8 Miliar USD dalam beberapa tahun ke depan terutama dalam kerjasama energi. Dan harusnya anda tahu darimana Jet-jet tempur Israel yang membombardir Gaza mendapatkan bahan bakarnya, diakui oleh media Turki sendiri Anadolu Turk http://www.anadoluturkhaber.com/…/Jet-Fuel-Trade-To-Is…/3996

Ya, mungkin setelah itu semua, yang terjadi barusan dimana Turki mengutuk tewasnya 62 warga Gaza oleh militer Israel (mungkin) masih layak diapresiasi, walau sejauh ini tidak terlihat adanya rencana lebih konkret dari sekedar saling usir Diplomat yang diakui kedua negara hanya berlangsung ‘sementara waktu’.

Di drama terbaru Erdogan menyebut Israel sebagai bandit yang telah melakukan genosida serupa Holocaust yang dilakukan NAZI terhadap kaum Yahudi, tidak lebih dari itu. Tidak ada seruan aksi konkret menghukum Israel seperti Indonesia yang menyerukan pemutusan hubungan diplomatik dengan Israel ataupun aksi boikot pada produk Israel.

Sudah rahasia umum, langkah konkret adalah hal yang amat susah dilakukan Turki mengingat mereka memiliki ‘simbiosis mutualisme’ dengan negara Zionis tersebut dalam banyak bidang. Dan jangan pernah lupa Turki adalah anggota NATO yang terikat perjanjian keamanan dengan Israel. Satu-satunya cara mempertahankan image ‘keislaman’ dan pewaris Khilafah Ottoman mereka hanya adegan tengkar dan saling kutuk, tapi bisnis tetaplah bisnis!

Saya cukupkan dulu tulisan ini ya, lagi pengen malam mingguan. Semoga ini bisa jadi bacaan Geopolitik yang berfaedah bagi para akhi wa ukhti kader PKS. 

Sumber : Status Facebook Ahmed Zein Oul Mottaqien

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed