by

Bedah Hukum Islam Soal Crypto

Oleh : Ahmad Tsauri

Ada yang mengolok hasil bahsul Masail Jatim, kemudian disusul fatwa MUI yang mengharamkan krypto, mata uang digital yang sedang menjadi tren baru. Alasannya menurut mereka, dasar keharaman yang disebabkan tidak adanya underline asset dalam uang crypto tidak berdasar, sebab bukan hanya crypto tapi juga semua mata uang. Betul, termasuk dolar sudah sejak presiden Nixon, dolar AS tidak lagi tidak didasarkan underline asset, emas.

Namun bedanya crypto dan mata uang konvensional, crypto sepenuhnya bersandar pada fluktuasi mekanisme pasar, sementara mata uang konvensional dikendalikan regulator yaitu bank central negara masing-masing. Kalau di USA ada The Feed dan di Indonesia ada BI. Sebagai contoh bulan lalu muncul crypto baru, diberinama Sequid, menyusul popularitas Squid Game, serial film yang dirilis Netflix. Mata uang ini sudah menyentuh 41 juta perkeping dan total 2.1 dolar, atau sekitar 29.9 Miliar rupiah.

Ribuan orang yang menukar uang mereka dengan koin digital squid merugi setelah terjadi Rug full. Rug pull adalah sebuah tindakan penipuan yang dilakukan di dunia kripto, di mana pembuat kripto membuat proyek palsu dan kemudian membawa kabur dana yang ia peroleh dari investor. Dalam kasus ini, pihak pembuat koin kripto Squid Game mencairkan koin mereka dan menukarkan dengan uang sungguhan. Menurut saya fatwa MUI ini sebagai tindakan preventif untuk melindungi masyarakat dari aksi money game yang banyak terjadi di dunia crypto curence.

Kalau tidak setuju dengan produk fikih bahsul Masail atau fatwa MUI. Tidak perlu mengolok-olok fikih sebagai produk purba yang sudah tidak relevan. Memang betul keputusan bahsul Masail ditentukan pertama-tama oleh akurasi peserta bahsu dan perumus dalam mentashuwurkan masalah, atau seberapa akurat rumusan masalah. Kedua seberapa shorih ibarat, jelasnya teks, dengan seberapa akurasi teks dengan kasus dan topik masalah yang dirumuskan. Memang pada umumnya bahsul Masail menyesuaikan teks-teks itu dengan konteks, tidak sampai melakukan qiyas atau tandzir masalah. Karena menurut santri qiyas dan tandzir Masail hanya dilakukan oleh ulama level Mujtahid. Tapi juga perumus dan musohih itu tidak sebatas mencocokan teks saja, tapi juga menemukan prinsip-prinsip dari teks kitab kuning itu dengan konteks yang dirumuskan dalam rumusan masalah.

Meksipun fikih dibukukan oleh generasi ke 3 yaitu pengikut Tabiin, tapi disana bersemayam Syariat Islam. Mungkin perlu membahas titik temu dan perbedaan antara Syariah dan fikih. Dalam pendahuluan I’lamul Muwaqiin Ibn Qayyim mengulas dengan jelas. Kapan-kapan kita tulis persamaan dan perbedaan antara fikih dan syariat. Tapi bisa dikatakan orang yang mengolok-olok fikih sama dengan mengolok-olok syariat Islam. Dengar-dengar hanya ketagihan Wine yang membuat santri yang dicap liberal kebablasanya dalam paham Islamnya. Bukan karena banyaknya literatur yang dibaca.

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed