by

Beda Ulama dengan Ulama Karbitan

Jauh sebelum Antropolog Polandia Bronislaw Malinowski (salah satu Bapak Antropologi) melakukan riset etnografi di masyarakat Trobriand Highlander di Pasifik, atau Franz Boas (Bapak / pendiri Antropologi di Amerika) melakukan penelitian atas suku Inuit di Kanada, di awal abad ke-20, Al-Biruni sudah melakukan penelitian selama puluhan tahun dengan cara tinggal bareng dengan masyarakat Hindu dan Jain di India di abad ke-10. Karena itu tidak heran jika antropolog Muslim Akbar Ahmed menyebut al-Biruni sebagai “Bapak Antropologi”.

Rezim Turki Usmani-lah kelak yang melakukan redefinisi, restrukturisasi dan sistematisasi ulama sebagai “ahli ilmu-ilmu keislaman” yang bertugas memberi fatwa, nasehat kepada pemerintah, dan tetek-bengek urusan keislaman. Pada masa Turki Usmani, ulama merupakan gelar yang cukup prestisius dan untuk mencapainya perlu belajar bertahun-tahun di Universitas Al-Azhar atau madrasah-madrasah Islam ternama di berbagai pusat studi keislaman di Arab Timur Tengah.

Di Indonesia dewasa ini, sebutan ulama “mengkeret” atau “mengerucut” lagi maknya dan terkesan “sangat murah”. Bagaimana tidak, dai/penceramah seleb di tipi disebut ulama, ustad karbitan disebut ulama, artis mualaf dipanggil ulama, politisi atau pejabat korup juga ada yang disebut ulama hanya karena modal jenggot doang, bahkan provokator dan preman pun yang omongannya kasar kayak “comberan got empang” dianggap ulama oleh para makhluk “manusia fosil” penghuni bumi datar he he. Oh Tuhan YME, apa salah dan dosa mereka he he.**

Sumber : facebook Sumanto Al Qurtuby

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed