by

Beda “Kritik” Jaman Dulu dan Sekarang

Bimbo pernah dicekal di masa orba, terutama saat mereka merilis lagu berjudul ‘Tante Sun’ yang diciptakan oleh Jaka. Lagu tersebut merupakan awal kritik terhadap rezim Orde Baru, dan mendapat sambutan positif bagi masyarakat. Sayangnya, pemerintah menganggap ‘Tante Sun’ sebagai sindiran bagi para istri pejabat yang berkuasa. Lagu itu sempat menjadi lagu Marching Band Institut Teknologi Bandung (ITB). Namun sejak itu langsung dicekal oleh pemerintah pada rezim Orde Baru.
Iwan Fals sendiri bahkan sampai pernah ditahan oleh pihak kepolisian dan diinterogasi selama dua minggu hanya karena membawakan lagu ‘Demokrasi Nasi’ dan ‘Mbak Tini’ dalam sebuah konser di Pekanbaru, Riau. Selain itu, Iwan dan keluarganya juga sering mendapatkan teror karena sikapnya itu. Sekali lagi, yang melakukan respon atas semua kritikan itu bukan masyarakat, netizen atau buzzer, melainkan pemerintah langsung. Beda dengan sekarang.
Saat ini, tidak usah pak Kwik atau Cuk Sujiwo yang mau kritik ke pemerintah atau ke Jokowi, bahkan awam yang menulis status lebay pun bisa ‘disikat’ habis oleh netizen +62. Tergantung kontennya juga sih, jika positif, menarik dan tidak aneh-aneh, tentu tidak mendapat respon berupa bullying, bahkan mungkin mendapat like dan apresiasi. Jadi, para pengkritik seperti pak Kwik dkk supaya jangan takut bersuara, ya harus belajar kepada para influencer atau youtuber.
Belajar bagaimana membuat konten yang menarik, bukan konten yang menghasilkan caci maki. Kok seperti tidak hafal bagaimana karakter netizen +62 sih? Jadi menurut saya, apa yang diistilahkan Cuk Sujiwo soal ‘buzzer penumpang gelap’ itu sungguhlah absurd. Karena kini siapapun memiliki akses bersuara ke publik. Tapi apakah mereka juga disebut ‘buzzer penumpang gelap’? Jangan begitu, Cuk. Lumrah saja layaknya berkomunikasi. Anda baik maka respon orang akan baik.
Sebaliknya, jika anda penuh caci maki meski dibalut dengan sebutan kritik, maka harus siap berbalik ke diri sendiri. Dan yang menyerang bukan yang dikritik, melainkan oleh orang-orang yang mendengar kritikan itu. Sekarang ini banyak orang (netizen) yang selalu merasa ingin terlibat bersuara. Masa anda minta ‘suara-suara’ konter itu untuk ditertibkan? Dibungkam? Paham dengan demokrasi gak? Sepanjang disampaikan dengan baik, insha Alloh akan menerima respon yang baik pula.
Jika inginnya menertibkan buzzer, itu artinya membatasi hak bersuara rakyat di media sosial. Atau, silahkan tidak membuat akun di medsos serta jangan pernah membuka medsos. Karena medsos itu kejam, Jenderal! Atau kembalikan seperti era orba yang tanpa medsos, dijamin tidak akan ada konter yang bisa menyakitkan. Jika memang sudah menyakitkan kenapa tidak melapor saja ke aparat? Bukankah ada pasal perbuatan tidak menyenangkan? Welcome to the new era. (Awib)
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed