by

Beda Ekspektasi dalam Menulis

Oleh: Agung Wibawanto

Bagi seorang pemula, mengawali atau memulai menulis saja adalah sebuah pekerjaan berat. Kata apa yang harus dimulai? Bagaimana menulis lead yang menarik, dan sebagainya. Saking banyak hal yang ingin ditulis menjadikan bingung, hingga satu huruf pun belum tertuliskan. Belum lagi soal moody, sedang zonk, malas, dsb.

Jika memang demikian, itu berarti kamu tengah mengalami stroke pada syaraf berpikir sistematis mu (kram otak). Satu-satunya cara memang dengan refreshing, jangan dipaksa. Mungkin kamu butuh udara segar dan pemandangan yang bikin adem. Pemula memang butuh jam terbang. Kadang pula selalu gagal di tengah jalan (tidak sampai selesai). Untuk itu, jika bisa menulis utuh satu naskah saja sehari, sudah merupakan kepuasan tersendiri.

Mulailah Si Pemula menulis dan menulis terus, tentang topik apapun dan gaya penulisan apa saja. Pokoknya menulis sesuai tuntutan hatinya. Medianya pun bisa beragam, tapi utamanya di akun medsos yang dimilikinya. Tak lama, sekadar menulis saja sudah tidak menarik lagi, mengapa tidak mencoba tantangan yang lebih berat?

Tantangan itu adalah menulis di media resmi. Ini akan menjadi wadah pengakuan kelayakan atas tulisannya. Selain itu, syukur bisa menghasilkan pemasukan. Ia mulai belajar bagaimana menulis yang layak sehingga dimuat di media. Ia menulis, kirim dan gagal, begitu beberapa kali, hingga saat tiba dimuat. Kepuasan itu menjadi tiada tara. Senang banget. Eksis sudah.

Tidak ada yang abadi. Begitu pun ketika ia sudah terlalu sering menulis dan dimuat media menjadikannya jenuh. Ia butuh tantangan baru. Selama ini ia tidak pernah tahu apakah tulisannya di media dibaca orang atau tidak. Ia hanya tahu dimuat di media, tapi belum tentu dibaca orang. Apa gunanya menulis yang dipublikasikan tapi tidak dibaca orang?

Membuat buku menjadi salah satu tantangan berikutnya. Ia mulai menulis agak panjang bahkan mungkin sangat panjang, dengan mempelajari beberapa literasi pustaka. Tidak lagi menulis 500-600 karakter kata dalam satu jam selesai, tapi menulis hingga berminggu, berbulan bahkan bertahun. Boleh percaya boleh tidak (kamu bisa merasakannya nanti), ketika tulisanmu selesai sebagai naskah mentah sebuah buku, rasanya tidak terhingga puas dan lega.

Hingga buku itu jadi dan diterbitkan. Terbesit rasa bangga, meski harus mengeluarkan isi kocek sendiri mulai dari pra cetak hingga cetak dan siap kirim ke toko buku bacaan. Perhatikan proses berikutnya, karena ini kisah nyata dari seorang teman penulis. Ia sangat antusias dan ingin tahu bukunya dibeli orang.

Ia turut “menjaga” di sebuah toko buku. Satu jam, dua jam hingga tiga jam, buku miliknya belum laku satu pun. Jangankan dibeli bahkan sekadar melirik dan mengamati sampulnya saja pun tidak. Ia menghibur diri, mungkin besok. Esoknya pun hingga minggu berikutnya pun demikian. Paling hanya satu-dua buku terbeli. Sebulan berikutnya ada kabar retur, buku tidak laku.

“Sakitnya tuh di sini,” ujar rekan sambil menunjuk dadanya. Setelah ditanya, ternyata bukan soal biaya banyak yang sudah dikeluarkan dan belum bisa balik modal. Lantas apa? “Tulusan saya tidak dibaca orang. Mereka tidak tertarik sama sekali…,” tuturnya lagi. Sebuah buku dibeli jarang sekadar dijadikan koleksi tanpa dibaca. Pada umumnya pastilah dibaca.

Bagi rekan saya tersebut, puas itu bila buku tulisannnya dibeli dan dibaca orang. Puas bila melihat di rak buku orang-orang terselip sebuah buku hasil karyanya. Itulah tingkatan kepuasan sekaligus tantangan dari seorang penulis. Jika sekarang kamu belum merasakan seperti itu, mungkin sekali waktu nanti. Saatnya pasti tiba. Tapi jika kamu tidak berani, maka kamu baru sebatas mimpi. 

(Sumber: Facebook Agung Wibawanto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed