by

Banjir Nabi Nuh

Sebagian orang ada yang mencoba mengantisi banjir itu dengan naik ke atas gunung. Salah satunya upaya putera Nuh sendiri. Namun teknik itu gagal total. Maski sudah naik gunung tinggi, tapi tetap saja tenggelam.
قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ
Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud : 43)
Menghadapi banjir dimana-mana saat musim penghujan ini, mungkin kah kita bikin konsep rumah tahan banjir berupa kapal laut?
Mau banjir setinggi lutut, dada atau kepala orang dewasa sekalipun, santai saja. Toh rumahnya akan mengapung mengikuti permukaan air.
Kan banjir itu langganan rutin tiap tahun. Bahkan di Jakarta ini ada fase 4 tahunan segala. Kalau rumah penduduk dibuat semacam perahu atau kapal laut, maka kala banjir kan tidak perlu ngungsi ke barak pengungsian, atau ke kelurahan, masjid atau gereja.
Dan di musim tidak banjir pun bisa saja tetap mengapung di atas sungai, rawa atau sekalian di laut. Kalau di laut, tidak perlu ribut beli tanah, tidak perlu bayar PBB pula.
Ah ngayal aja . . . Hehe
Sumber : Status Facebook Ahmad Sarwat

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed