Bangsa Peragu

Keesokan harinya, saya benar-benar menaruh perhatian ketika seorang bapak keturunan India membawa anaknya untuk berbelanja. Si anak dari awal sudah memilih akan sebuah menu dan tidak mau lagi untuk berubah. Tetapi si bapak, menunjukkan dan memberikan masukan yang ini begitu dan yang itu begini, yang akhirnya membuat pendirian si anak menjadi goyah. Dan mereka terus berdiskusi sementara di belakang antrian semakin panjang dan tampaknya mereka tidak perduli yang membuat saya sedikit mangkal dan gerah. 

Setelah beberapa saat, si anak akhirnya memutuskan untuk memilih perubahan dalam makanan yang akan dipesan dan mengikuti usulan si bapak. Ketika mereka bergerak ke arah kasir untuk membayar, si bapak kembali bertanya apakah si anak yakin kalau itu pilihannya, bagaimana dengan menu yang satunya lagi yang juga kelihatan enak. Si anak kembali melirik ke arah display, dan di matanya ada sedikit keraguan yang mulai tampak. Ketika mereka juga tidak jelas akan memesan yang mana, saya menyuruh mereka untuk minggir ke samping karena dari belakang antrian sudah makin banyak. 

Jika melihat tindakan si bapak yang selalu meragukan keputusan si anak, tidak heran kalau sampai besar mereka akan masih tetap begitu. Tidak pernah merasa mempunyai keputusan yang tepat, dan selalu bertanya kembali tentang tindakan yang sudah berlalu. Akibatnya mungkin akan menyalahkan orang lain jika suatu keputusan yang telah diambil berujung tidak enak dan bukan seperti yang dimau. Dan pertanyaan ‘what if’ atau ‘seandainya saja’ akan selalu mendera perasaan dan untuk seterusnya menjadi hal yang mengganggu bagaikan hantu. 

Memang ada bagusnya untuk memberikan pelajaran kepada si anak untuk memilih, tentang mana yang dia suka. Mungkin juga ada perlunya untuk memberikan keterangan tambahan supaya pilihan benar-benar sesuai dengan selera. Tetapi rasanya tidak perlu mencampuri dan kembali menggoyahkan ketetapan, semisal warna yang dipilih ternyata tidak sesuai dengan keinginan orangtua. Dengan usaha tambahan yang terasa seperti memanipulasi si anak supaya mengikuti keinginan orangtua, sehingga walaupun sepertinya seolah-olah diberikan kebebasan dalam menentukan tetapi kenyataannya setengah dipaksa. 

Berbeda dengan kaum kulit hitam yang orangtua mereka sangat tegas, yang dari awal sudah menetapkan pesanan, tak perduli kalau si anak tidak suka. Sedang kaum Latino sangat memanjakan anaknya, mereka malah boleh memilih lebih dari satu atau dua. Kaum kulit putih juga membiarkan anaknya untuk memilih tetapi dengan catatan kalau hanya boleh satu pilihan saja. Kalau kaum keturunan Asia yang lain biasanya memperbolehkan anaknya untuk memilih tetapi dengan ancaman tambahan yang mengharuskan untuk melahap semuanya, kalau tidak besok-besok tidak boleh lagi ikutan dan harus tinggal di rumah. 

Tabik. 

Sumber : Status Facebook B. Uster Kadrisson

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *