by

Bangsa Pelupa

Seringkali ingatan berbeda dengan sejarah resmi. Siti Nurbaya mungkin mengingat hari pernikahannya sebagai hari dimana ia kehilangan kebebasannya, sedang Datuk Maringgih mungkin mengingatnya sebagai hari penaklukan. Untuk menghindari perbedaan antara ingatan dan sejarah resmi dari suatu peristiwa yang sama, dibuatlah upacara-upacara perayaan, hari-hari peringatan ataupun monumen. Maka masyarakat akan bersepakat bila tanggal sekian, bulan dan tahun sekian adalah hari pernikahan Siti Nurbaya, karena pada hari itu ada upacara pernikahan. Di masa berikutnya bahkan ada Kantor Catatan Sipil atau KUA yang menerbitkan akta perkawinan resmi. Kenangan akan tanggal sekian bulan sekian kini bukan lagi mengikut ingatan pedih Siti, atau ingatan kemenangan Datuk.
Ingatan bisa menjadi dasar identitas yang kuat, terutama dalam konteks kenegaraan karena mengingat juga merupakan langkah penting untuk mencegah hal-hal negatif dari masa lampau kembali terjadi. Maka kita kemudian mengenang kekejaman Hitler.
Sayangnya, mengingat ternyata bukanlah sesuatu yang mudah dilakukan orang Indonesia. Bangsa kita terkenal dengan amnesia sejarahnya, terutama bila berkait ingatan-ingatan emosional. Seseorang yang dilahirkan di tahun 90an, bisa dengan enteng mengatakan zaman Orde Baru adalah zaman gemah ripah loh jenewer. Tentu saja ia bisa berkata demikian karena kebetulan ia banyak mendengar ucapan orang tua dan saudaranya yang kebetulan pejabat masa Orde Baru dan diberi banyak kemudahan rezim, termasuk sering mendapat tanah kavling gratis. Dia bukan warga Kedung Ombo, bukan pula warga yang dianggap tidak bersih lingkungan, atauun petani cengkeh. Mungkin amnesia sejarah pula yang membuat publik lupa pada rekam jejak motivator tenun kebangsaan yang kemudian banting setir menjadi politisi yang memanfaatkan isu-isu SARA.
Namun demikian, amnesia, ‘lupa’ ataupun ‘melupakan’ dalam konteks Indonesia bisa jadi tidak 100% buruk. GM menganalisis peristiwa Sumpah Pemuda 1928 sebagai kesadaran untuk secara sadar melupakan identitas kedaerahan menjadi sesuatu yang baru: komunitas imajiner bernama Indonesia. Kelahiran suatu bangsa baru, dan kelak menjadi negara baru, yang dibangun dari kesadaran melupakan perbedaan asal.
Amnesia publik di kala bencana alam besar juga berdampak membuat bangsa ini bisa segera bangkit membangun, seperti yang terjadi setelah Tsunami Aceh (2004) atau Gempa Yogyakarta (2006). Dengan cepat masyarakat melupakan ingatan emosional akibat bencana, menjadi fokus untuk bergotong royong. Konon tidak semua tempat di dunia punya masyarakat dengan recovery secepat Indonesia. Di luar sana, ada banyak tempat-tempat yang menjadi mati dan tak pernah lagi berpenghuni karena bencana.
Membaca manfaat amnesia publik ini saya tertawa. Sebab saya pribadi sering geli dan meremehkan sifat gampang lupa sejarah bamgsa ini. Seperti eks tukang obat yang lupa bila ia sedang berceramah di depan mikrofon, jadi tak perlu berteriak-teriak hingga muncrat. Mungkin ingatan emosionalnya masih membawa ia pada masa berteriak di Alun-alun tanpa pengeras suara, di tengah keramaian, tanpa seorang pun hirau padanya. Berteriak menjadi cara untuk menarik perhatian orang lain. Amnesia komunal pula yang membuat seoramg terpidana korupsi dapat memenangkan pilkada lagi.
Itu hanya salah satu contoh. Kejadian amnesia seperti itu banyak. Sehingga secara berseloroh, ayah saya mengatakan orang Indonesia punya memori seperti memori ‘redial’ dalam telepon jadul. Hanya menyimpan memori untuk nomer terakhir yang dihubungi, dan akan segera tergantikan oleh nomer yang dihubungi lebih baru.
Sampai di sini saya teringat diskusi yang saya ikuti via zoom baru-baru ini. Bertema tentang Outlook Economy Kota Solo pada 2021. Dikatakan salah satu pembicara, seorang Perwakilan Bank Indonesia Surakarta, salah satu kunci kebangkitan pertumbuhan ekonomi adalah confidence. Kepercayaan yang cukup besar bagi para pelaku sektor-sektor ekonomi. Ia kemudian mengatakan, salah satu key point mengembalikan confidence adalah bangkit dari pandemi. Termasuk juga kepercayaan penuh pada program vaksinasi Covid. Tak ada resistensi, tak ada berita simpang siur. Tak ada emosi negatif yang berujung pada ingatan negatif: negeri yang tak aman dan nyaman karena penduduknya tak mampu berpikir rasional.
Ingatan negatif ini berujung pada hilangnya confidence para pelaku ekonomi. Investasi yang terhambat, kegagalan pertumbuhan ekonomi, dan berujung pada depresi. Baik depresi ekonomi, maupun depresi bagi penduduknya. Baru kemarin teman saya bercerita keluhan kakaknya yang tak lagi bisa berlayar, hanya karena negeri tempatnya bekerja menganggap Bangsa Indonesia adalah sekumpulan masyarakat bodoh yang percaya hoax vaksin.
Semua imbas yang terjadi sungguh tak lagi sedehana, meski berawal hanya dari framing-framing buruk bertujuan politik, yang segera saja menjadi ikatan negatif yang mengikat sesama warga. Mereka yang tak paham dampak Covid, mereka yang tak paham prinsip pemulihan ekonomi. Saya tiba-tiba merinding pada efek buruk sesuatu yang seringkali hanya saya anggap dagelan: orang bodoh yang percaya hoax.
Pembicara berikutnya dalam diskusi tersebut adalah Walikota Terpilih Surakarta. Ia mengatakan bahwa masyarakat akan diberi kesadaran bahwa manfaat vaksinasi tidak semata untuk kekebalan individu, tetapi kekebalan komunal. Kekebalan masyarakat. Dengan demikian masyarakat dibangkitkan pada kepribadian asli bangsa ini: gotong-royong, tepa selira, dan bertanggung jawab sosial. Susah senang ditanggung bareng….
Saya rasa kita harus mulai banyak melakukan gerakan sederhana serupa. Membangun ingatan emosi yang positif, ingatan yang membangun kepercayaan diri, kepercayaan masyarakat maupun kepercayaan global. Saya membayangkan betapa merusaknya efek ingatan negatif yang sedang dialami Amerika akibat isu-isu SARA yang merajalela di era Trump. Tentu kita tak ingin Indonesia seperti itu.
Sumber : Status Facebook Vika Klaretha Dyahsasanti

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed