by

Baliho Kilapah

Oleh : Harun Iskandar

Ada Baliho besar, dominan warna merah putih. Maklum sudah dekat perayaan 17 Agustus-an. Numpang tapi jahat . . .Ada ‘logo’ bulat warna hijau ndak begitu jelas. Jika cuma melihat dari foto2 yang lagi viral. Siapa pengusungnya, identitas pembuat spanduk. Yang numpang tapi jahat, belum jelas siapa . . .

Saya sebut ‘numpang’ karena seakan ikut ‘sambut’ perayaan Kemerdekaaan RI. Ada juga kalimat semoga cepat pulih, dari pandemi covid maksudnya. Berdoa . . .Ada tulisan ucapan terima kasih pada Pahlawan. Ada juga lambang Garuda Pancasila . . .

Saya sebut ‘jahat’ karena siapa pun bisa merasa, kalau spanduk itu mesti ada ‘apa2’nya. Sebab . . .Pertama, tertulis ‘diantara tokoh ulama yang berperan dalam Kemerdekaan RI ‘Memang ditulis ‘diantara’. Namun yang ‘diantara’ itu ndak ada nama2 yang selama ini kita kenal sebagai ‘Ulama Pejuang’. Ndak ada, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Wahid Hasyim, Kisi Zainul Mustofa-Tasik, Kiai Noer Ali-Bekasi, Kiai Wahab, Kiai Bisri, Muhammad Natsir, Imam Bonjol, Diponegoro, dan lain lain . . .

Kedua, menyelewengkan data sejarah. Pak Muthahar misal, ditulis Pencipta Lagu Kebangsaan. Padahal kita semua tahu, yang bener ya WR Soepratman . . .Habib Ali – Kwitang juga disebut sebagai penentu Hari dan Waktu Proklamasi. Padahal nurut sejarah, itu terjadi persis setelah Soekarno dan Hatta ‘diculik’ dan ‘dipaksa’ para pemuda. Dibawa ke Rengasdengklok tanggal 16 Agustus 1945 . . . Habib Idrus Al Jufry, dikatakan penggagas bendera Merah Putih. Padahal kita tahu bendera ‘Gula-Kelapa’ sudah jauh2 hari ada di Nusantara. Di Surabaya, arek2 Suroboyo pun, di atas hotel Yamato, merobek bendera tiga warna Belanda, jadi Dwi Warna Merah Putih . . . Padahal juga yang bikin bendera ‘Pusaka’ Merah Putih adalah Ibu Fatmawati Soekarno. Istri Bung Karno. Dijahit selama 2 hari baru selesai, karena mesin jahitnya bergerak hanya pakai tangan. Ndak boleh pakai kaki, sebab Beliau sedang hamil tua, bayi Guntur Soekarno Putra, putra sulung mereka . . .

Ketiga, yang tertulis hampir semua bergelar Habib atau yang bukan pun ‘disamarkan’, dengan tambahan huruf ‘H’, yang ndak lazim, di depan namanya. Agaknya bermaksud mengesankan ‘Arab’ namun disamarkan. Maka ditulis ‘ulama’. Padahal ndak semua yang tertulis itu adalah ‘habib’ dan atau ‘ulama’. Jika Arab memang sudah jelas . . .Ada apa . . . ? Lagipula, kok persis banget dengan acara ‘pengibaran’ bendera Palestina, sabuah negeri ‘Arab’ ?

Ini yang saya sebut dengan ‘jahat’. Sebuah Kejahatan yang sistematis. Langkah culas, taktis, dengan menyisipkan ide dan pemikiran pemalsuan sejarah. Pencucian otak. Sebenarnya bisa dinilai sebagai baliho penyambut Perayaaan Kemerdekaan RI yang biasa. Jika nama2 yang tercantum bukan hanya ‘ulama Arab’, dengan tambahan identitas sejarah yang palsu . . . Maunya hendak ‘mengagungkan’ WNI Keturunan Arab, namun malah bisa timbulkan kebencian, minimal ketidak-sukaan. Nama2 yang tercantum bisa jadi sasaran persekusi, yang berujungnya pada WNI keturunan Arab. Memecah belah, mengadu domba . . . Setelah ‘menyasar’ WNI Keturunan Tionghoa, kini giliran Warga Keturunan Arab. Makin diprotholi ‘kaki dan tangan’, kekuatan kita, Bangsa Indonesia. Ini taktik yang biasa bagi kaum Kilapah. Yang punya hobi berdiri diatas gelimpangan mayat ‘saudara’. Seperti di Siria, atau Irak . . .

Lebih aneh dan jahat lagi, namun lucu. Ada juga tercantum nama AR Baswedan. Siapapun tahu, Beliau itu pejuang, yang jurnalis dan diplomat. Bukan ‘ulama’. Maksa kayaknya. Terlalu bernafsu untuk bikin landasan ‘berpijak’, modal berjuang bagi ‘seseorang’ pada Pil-Pres tahun 2024. Sebagai Presiden negeri Palestina . . .Wwk wk wk . . .

Kilapah memang begitu, lucu, goblok, gemar mengada-ada, jahat pula, Sukanya adu domba . . .

Sumber : Status Facebook Harun Iskandar

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed