Bahaya Stigma Cebong dan Kadrun

Kasus lain, ada anak yang terkenal nakal banget lalu saat penerimaan raport ia dinyatakan tidak lulus. Kita akan berasumsi bahwa salah si anak yang memang nakal. Bagaimana? Sering kan kita menduga begitu? Dalam sebuah kasus hukum misalnya, ada fakta, seseorang ditemukan berlumuran darah di dekat sesosok lain yang sudah mati diduga korban pembunuhan. Kita bisa berasumsi macam-macam.
Bahkan berdasar fakta yang ada, menuduh dialah pembunuhnya. Namun apa kebenarannya? Apa kita bisa langsung tahu? Untuk itu diperlukan proses peradilan di persidangan. Meski tidak bisa 100% setidaknya mendekati, itu sudah sangat baik. Di dunia medsos sekarang ini, banyak sekali asumsi berseliweran di timeline. Banyak warganet yang asal berasumsi bahkan asal menuduh terlebih dibumbui dengan kata-kata pedas dan kasar.
Lebih celaka lagi ada pula pihak yang merespon juga menggunakan asumsinya sendiri yang berbeda. Jadi, asumsi di balas asumsi masing-masing maka sampai kapan pun tidak ketemu. Ada baiknya saat menghadapi kondisi seperti itu, yang waras melengkapi dengan dasar berupa referensi yang sahih baik infonya maupun sumbernya, sehingga ada dasarnya berdebat, tidak saling berasumsi.
“Ah, dasarnya orang gila, meski sudah dijelaskan pakai bukti, fakta dan sumber juga tetep aja gak bakal nyadar!” Kalau sudah begitu ya ditinggal saja, karena ini soal kebiasaan lain, yaitu budaya diskusi atau dialektika yang sudah langka di masyarakat kita, terutama masyarakat online. Jadi, “cebong” dan “kadrun” itu apakah sama tabiatnya? Jika berbeda, maka mari mulai sekarang kita tunjukkan, bahwa kita lebih cerdas. Jika tidak begitu, berarti ya sama saja. (Awib)
Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *