Bahasa Al Kitab

Dan karena kemajuan teknologi gadget, apa salah dan dosanya juga kalo Alkitab itu kemudian dibuat dan masuk aplikasi PlayStore?

Jawabannya baru beberapa hari ini gue tahu, lewat tulisan dan berbagai komen keras, ternyata orang Minang gak rela ada orang Minang yang sudah berpindah agama masih ngaku-ngaku orang Minang. Dengan alasan mereka dianggap sudah keluar dari falsafah Minang, “adat bersendikan sarak (hukum) sarak bersendikan kitabullah (Al Quran)” itu.

Entah kesepakatan dari mana dan apa dasar hukumnya, gue juga gak tahu kalau segala atribut berbau Minang baik budaya dan bahasa pun harus dilepaskan jika seorang Minang gak lagi menganut Islam. Termasuk melarang penggunaan simbol-simbol budaya Minang di dalam di gereja. Baik dalam bentuk rumah adat atau pakaian, seperti yang dilakukanJemaat Gereja Kristen Nazarene Rantau Jakarta.

Gue gak habis pikir kok bisa begitu. Bukankah sebelum Islam masuk ke Sumatera Barat bahasa Minang itu sudah ada. Kenapa harus dipermasalahkan? Kenapa sampai ada gugatan keberatan bahasa Minang gak boleh jadi bahasa Alkitab.

Menurut gue, adalah wajar jika kitab suci diterjemahkan ke bahasa pengikutnya. Karena itulah cara terbaik pemeluknya memahami agama yang dianutnya dan jadi pilihan hidupnya.

Kitab suci yang gue anut, Al Quran, kalo gak ada terjemahan bahasa Indonesianya, karena bukan anak pesantren, gue juga gak paham apa isinya. Tulisan berbahasa Arab di dalamnya gak lebih hanya sederetan sistem lambang atau simbol bunyi asing yang hanya dipahami pemakai dan penutur aslinya.

Jangankan yang gak tahu bahasa aslinya, yang menguasai bahasa aslinya saja belum tentu paham isinya. Dan yang parah, yang paham isinya pun belum tentu sanggup menjalani.

Kemarin gue iseng nyari Alkitab berbahasa Minang itu di PlayStore. Lah, sudah hilang. Yang ketemu malah Bahasa Manado.

Sumber : Status Facebook Ramadhan Syukur

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *