Babi dan Pikiran Kerdil

Kita kembali ke daging babi, kalau dia tidak di haramkan utk umat selain islam, ya kan wajar sbg makanan warga non islam, seperti hal nya di Bali dan daerah lainnya yg mayoritas di huni warga non muslim. Terus apa urusannya korona di kaitkan dgn babi, azab gitu, kalau mau menilai azab ya liat prilaku umat islam yg setiap malam memadati tempat hiburan malam sambil mengkonsumsi alkohol plus menyantap wanita malam sbg hidangan penyedap, blm lagi kalau lihat di Puncak Bogor, berjejernya warung maksiat berbalut syariah yg menghidangkan wanita penikmat yg di santap melalui ijab kabul kontrak. 

Hello khabar itu sdh menyebar viral meng internasional, apa bukan itu yg membuat korona terpesona ke Indonesia, kalau daging babi sebabnya harusnya yg di serang korona duluan ya Bali, Manado, Parapat, dsk nya. 

Saya sbg muslim mhn maaf agak ngeres kuping saya kalau mendengar fatwa MUI yg mengada-ada, kesannya jadi tak elegan. Yll seperti ucapan natal yg selalu di haramkan, eh baru saja natal thn lalu, ucapan natal boleh buat wapres, kita bukan cuma ketawa, tapi ya ikut malu juga. Lembaga yg konon mewakili umat islam ini makin tenggelam saja posisinya dimata yg mengerti, kecuali yg gak ngerti dan cuma bisa mengamini saja.

Jadi cobalah MUI yg elegan dikit, apa dasarnya kok daging babi di kaitkan korona masuk DKI, padahal virus yg lebih zholim dan lucu sedang beredar di DKI, virus banjir, virus mahoni, virus, lem, virus formula, dst. Semua itu virus yg membuat orang mati berdiri, kalau korona kan sdg di observasi. Yang di Depok saja katanya sdh bisa lari-lari.

Saya menyayangkan kalau MUI makin asal bunyi, takutnya lama-lama, tidak ada lagi yg percaya. Belum lagi skrg konon katanya banyak keluhan UMKM begitu sulitnya ngurus sertifikat halal, itu bayar lho..

Jadi, saran saya biarkan daging babi beredar secara proporsional, toh tidak ada yg meminta sertifikat halal agar babi dihalalkan utk kita yg mengharamkan. Lagian setiap urusan di negeri ini sdh ada yg mengurusnya, korona di urus Menkes, MUI ngurus fatwa saja, itupun jgn yg membuat orang cuma ketawa, jadi yg makan babi silakan makan lagi, tapi jgn ikut wisata ke puncak, sambil ngebir pakai uang yg di dapat dari korupsi, HARAM TAU !!!

 

(Sumber: Facebook Iyyas Subiakto)

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *