by

Atasi Varian Delta, Antibodi dari Infeksi Alama Tidak Cukup

Oleh : Mila Anasanti

Dalam beberapa bulan terakhir, varian Delta SARS-CoV-2, menjadi berita utama karena telah menyebar ke seluruh dunia. Varian Delta yang disebut sebagai B.1.617.2 ini pertama kali diidentifikasi di India pada Desember 2020. Berikut yang harus diketahui semua orang tentang varian Delta :

1. Varian Delta menginfeksi lebih parah, dengan viral load 1000x lebih tinggi daripada varian aslinyaStudi baru-baru ini dari China menemukan orang yang tidak divaksinasi dan terinfeksi varian Delta memiliki viral load dalam sistem pernapasan mereka 1.000x lebih banyak dibandingkan yang terinfeksi virus asli sebelum mutasi : https://www.medrxiv.org/con…/10.1101/2021.07.07.21260122v1 (preprint). Dengan viral load yang lebih tinggi, menaikkan tingkat penularan, keparahan dan beban RS.

2. Varian Delta 60% lebih menular daripada strain virus SARS-CoV-2 lainnya. Penelitian menunjukkan varian Delta menyebar dan menularkan 60% lebih cepat. https://www.nature.com/articles/d41586-021-01696-3 Jika varian awal, masa terinfeksi dari awal masuknya virus hingga bergejala adalah 6 atau 7 hari, varian Delta butuh hanya 4 hari saja.

3. Orang muda dan anak-anak 2,5x lebih berisiko terinfeksi varian Delta, terutama anak-anak di bawah usia < 12 tahunStudi dari Inggris : https://spiral.imperial.ac.uk/handle/10044/1/89629 menunjukkan anak-anak dan orang dewasa < 50 tahun 2,5x lebih mungkin terinfeksi varian Delta. Hal ini karena prosentase mereka yang divaksin sebagian besar lansia, sedang anak-anak < 12tahun sejauh ini belum ada vaksin COVID-19 yang sudah dapat izin untuk diedarkan. Sedang tingkat keparahan varian Delta saat ini tidak lagi memandang usia, tidak lagi memandang ada atau tidaknya komorbid.

4. Vaksin COVID-19 menawarkan perlindungan terbaik terhadap varian Delta, sedang antibodi infeksi alami TIDAK CUKUP memberi perlindungan

Para peneliti Prancis menguji orang-orang yang tidak divaksinasi tapi pernah terinfeksi alami COVID-19 untuk membandingkan seberapa baik antibodi yang dihasilkan dalam menetralkan infeksi varian Delta oleh infeksi alami dan vaksin. https://www.nature.com/articles/s41586-021-03777-9 Hasilnya, antibodi dari mereka yang sebelumnya terinfeksi tidak berhasil menetralkan infeksi varian Delta dengan baik. Berbeda dengan antibodi dari vaksin, bahkan dosis 1x vaksin Pfizer atau AstraZeneca secara dramatis mampu meningkatkan kadar antibodi untuk menetralisir varian Delta.

Lembaga kesehatan Inggris mengumumkan berdasarkan penelitian mereka, orang yang telah mendapatkan 1x dosis vaksin memiliki kemungkinan 75% lebih kecil untuk dirawat di RS, dibandingkan dengan mereka yang tidak divaksinasi, sedang 2x dosis vaksin memiliki kemungkinan 94% lebih kecil untuk dirawat di RS : https://www.nature.com/articles/d41586-021-01696-3#ref-CR1

Bagaimana dengan vaksin Sinovac terhadap varian Delta?

Sejauh ini belum ada data yang diterbitkan di penelitian, namun efikasi vaksin Sinovac berdasarkan penelitian terbaru adalah 65,9%, di mana ini ditenggarai memasukkan juga kasus infeksi varian Delta : https://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMoa2107715

Thailand melaporkan 618 infeksi COVID-19 dan satu kematian di antara 677.000 pekerja medis yang divaksinasi penuh dengan 2x dosis Sinovac. Artinya efektifitas vaksin Sinovac cukup bagus, dengan infeksi < 0.1% dan 1 kematian per 677.000. Meskipun mereka berusaha memperbaiki keadaan, dengan menawarkan vaksin Astra atau Pfizer untuk dosis kedua : https://www.reuters.com/…/thailand-starts-tighter…/

Jadi, bagaimanapun meski tidak seefektif vaksin lainnya dalam menghadapi varian Delta, tapi vaksin Sinovac masih jauh lebih efektif dibandingkan tidak divaksin.***

Ya, varian Delta ini lebih menakutkan. Tapi, alhamdulillaah vaksin tetap efektif untuk menangkalnya .Jika seseorang yang divaksinasi terkena COVID-19, vaksin melindungi dari keparahan penyakit, yang membantu mencegah rawat inap dan kematian. Meski demikian, berhubung cakupan vaksin di negara kita masih jauh dari target, yang divaksin tetap harus taat prokes untuk melindungi mereka yang belum/tidak bisa divaksin.

Sumber : Status Facebook Mila Anasanti

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed