by

Aparat Kita dan Film “Murder at 1600”

Oleh: Dul Kamdi

Film Murder at 1600 menceritakan Detektif Harlan Regis (Wesley Snipes) yang ditugaskan menyidik pembunuhan seorang wanita di Gedung Putih. Dinas Rahasia AS menugaskan Agen Nina Chance (Diane Lane) untuk menjadi penghubung tim penyidik dari Dinas Rahasia dan tim dari kepolisian yang dipimpin oleh Detektif Regis. Dalam prosesnya, Dinas Rahasia terkesan menutup-nutupi berbagai hal, menempatkan banyak informasi dan barang bukti sebagai dokumen rahasia. Dinas Rahasia bahkan ‘menumbalkan’ seorang petugas kebersihan sebagai tersangka, dengan bukti yang tidak cukup kuat.

Dalam satu kesempatan, Detektif Regis yang ‘gerah’ dengan situasi ini, mendatangi rumah Agen Chance untuk meminta kejelasan. Terjadi perdebatan sengit, di mana Agen Chance menegaskan bahwa dia sedang menjalankan tugasnya. Detektif Regis pun dengan marah mengatakan bahwa ‘tugas’ yang dijalankan Agen Chance ini dapat menyebabkan seorang yang tak bersalah dipenjara seumur hidupnya. Hal ini yang kemudian mengubah sikap Agen Chance dalam kelanjutan penyidikan.

Apa yang disampaikan Detektif Regis inilah yang seharusnya ditanamkan dalam hati aparat kita. Mungkin dalam banyak hal, itu hanya ‘menjalankan tugas’, mematuhi perintah atasan. Namun, dalam hati, sadarkah mereka sedang menumbalkan orang yang tak bersalah untuk menjadi pesakitan? Apakah mereka nyaman dengan fakta bahwa orang yang dikorbankan ini, berpotensi menjalani hukuman maksimum, sedangkan yang mengorbankan bisa adem ayem dengan dosa yang diperbuatnya?

Mbuh ah, ini hanya curhatan guru yang capek dengan berbagai hal yang tak seharusnya terjadi, yang memberikan ruang bagi para pemancing perkoro untuk memancing di air keruh…

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed