by

Antara Konsili Vatikan II Dan Munas Alim Ulama NU

Kini kaum sarungan Nahdhatul Ulama, yang kokoh memegang tradisi, yang jumlah anggotanya 60 juta menurut Kyai Hasyim Muzadi, 120 juta menurut Gus Dur, atau bahkan 143 juta menurut Lembaga survey IndoBarometer tahun 2000 (dari 234 juta penduduk Indonesia) membuat semacam ‘fatwa’ mengejutkan dalam sebuah perhelatan resmi Munas (Musyawarah Nasional). Dokumen Nostra Aetate dan Lumen Gentium sejatinya adalah dokumen teologis, rumusan teologis, dengan latar belakang historis dan teologis, dan bertujuan teologis. Munas Alim Ulama NU kemarin juga merumuskan satu rumusan teologis, yakni Fikih dan Ushul-Fikih: bagaimana posisi non-Muslim Indonesia dalam konteks terminologi fikih dan hubungannya dalam hidup berbangsa-bernegara: kafir dzimmi, harbi, mu’ahad, atau musta’man? Jawabannya sudah maklum semua: kategorisasi itu sudah usang! Sudah tidak memadai lagi. NU berani ‘melampaui’ tradisi Fikih demi kepentingan bangsa dan negara. Yang berbeda dari rumusan konsili Vatikan II adalah jelas, NU berangkat dari rumusan teologis, tapi tujuannya maslahat negara. Pesan Munas juga jelas: jangan lagi merendahkan sesama warga bangsa dengan tafsir teologis yang eksklusif! Sapa mereka sebagai sesama warga bangsa, bukan sebagai kafir yang hina!

Mungkin ada komentar teman yang bilang saya ‘berlebihan’ membandingkan Konsili Vatikan II dengan Munas NU. Mungkin saja berlebihan! Saya tidak berpretensi membandingkan secara linier dan ketat dua organisasi besar agama internasional ini. Saya mau ajak para pembaca untuk merenungi spirit dan pesan keduanya yang eksplisit: mari kita manusiakan manusia dengan segala kemuliaan, kerumitan dan kompleksitasnya. Itu saja.

Sudah sejak lama Studi Islam modern dan Studi Agama-agama memahami kata “kafir” dalam Quran tidak otomatis ditujukan untuk kaum Yahudi, Nasrani dan para penganut agama non-Islam. Para sarjana ini menggunakan istilah Ahl al-Kitab, Ahl al-Diyanat, Ahl al-Milal wa al-Nihal dan lain-lain. Mereka tidak otomatis kafir. Tapi lagi-lagi, berapa ratus atau berapa ribu para pengikut kaum akademisi ini yang terbatas di kelas-kelas dan kampus-kampus? Lain halnya dengan NU yang jutaan basis masanya berada di akar rumput. Keputusan Munas itu akan punya “daya pukul” (striking force) yang lebih kuat daripada kajian-kajian akademik yang terbatas pada lingkaran elite.

Ini adalah salah satu pencapaian keagamaan dan kemanusiaan terpenting PBNU di bawah komando Kyai Said Aqiel Siraj dkk. 
Bravo NU!

Sumber : Mediaa Zainul Bahri 
Nahdyiyyin kultural

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed