Oleh : Luli Prayoga
Jika hari ini Machiavelli masih hidup, ia baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke- 553 tahun. Sungguh tua sekali. Tapi politisi yang aktif di masa renaisans itu namanya masih abadi sampai sekarang. Dalam istilah psikologi, namanya dipakai untuk menggambarkan kepribadian seseorang yang gemar menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan.Punya ambisi sungguh wajar dan sah-sah saja sebab itu bagian dari memperjuangkan cita-cita.
Tapi jika cara yang ditempuh sarat manipulasi, hingga mencelakaan orang lain, tentu tak bisa dibiarkan.Keluarga Ki-Taek dalam film Parasite (2019) memperlihatkan bagaimana manipulasi dimainkan sedemikian rupa hanya untuk menguasai rumah keluarga kaya. Keluarga miskin itu menipu dengan amat sistematis, rapi, sekaligus kompak demi tercapainya ambisi menjadi orang kaya.Dalam politik kita, aroma machiavellisme juga sangat ketara saat gelaran Pilkada DKI Jakarta. Politik identitas yang digencarkan Anies dengan membabi buta, sampai ke toak dan dinding-dinding masjid, membuat dia berhasil memenangi pilkada.
Tapi jangan salah, menghalalkan segala cara untuk menuntaskan ambisi bukan kali pertama dilakukan Anies. Sebelumnya jabatan rektor Paramadina juga didapatkan Anies dengan cara culas. Ia merebut jabatan rektor dari tangan Yudi Latif.Fakta itu disampaikan budayawan Mohammad Sobary. Menurutnya Yudi Latif sebenarnya sudah terpilih jadi rektor, tetapi pihak yayasan (karena ada keluarga Anies) menganulir kemenangannya dan memberikan jabatan kepada Anies.
Benar, merebut kuasa dengan cara culas sudah jadi watak Anies. Ia tak mungkin adu gagasan, apalagi adu program, sebab pasti akan keteteran. Mohamad Sobary juga memberi kesaksian bahwa Anies Baswedan tidak bisa bekerja, itu terbukti saat keduanya berada dalam satu organisasi yang sama. Saat itu Anies Baswedan menjadi anak buah Mohamad Sobary. “Kalau kita berbicara secara dingin, Anies anak buah saya dan tidak pandai bekerja. Anak buah saya di Partnership for Governance Reform,” ujar Mohamad Sobary dalam kanal youtube Refly Harun.
Ambisi berkuasa Anies memang tak diiringi kapasitas yang mumpuni. Dia hanya bermodal retorika, lips servis semata. Hasilnya pun terlihat begitu dia menjabat gubernur: tidak ada programnya yang terlaksana dengan baik. Program Oke-Oce yang digadang-gadang mampu menumbuhkan perekonomian di Jakarta dengan melahirkan 200 ribu pengusaha hingga 2022 itu, kini bahkan tak terdengar lagi.Hanya ada 6.000-an pendaftar yang telah sampai pada tahap permodalan. Beberapa swalayan atau OK-OCE Mart juga sudah lama tutup. Tak mau dibilang gagal, Anies mentransformasi program itu dengan mengubah nama jadi Jakpreneur. Namun ternyata tidak jauh berbeda.
Hari ini Machiavelli mungkin sedang tersenyum bangga di alam kuburnya melihat Anies Baswedan ternyata setia jadi pengikutnya. Politik identitas yang menjadi catatan buruk di Indonesia barangkali telah menjadi kenangan manis bagi Anies, dan ia pun terus menggunaknya untuk ambisi nyapres.Bagi-bagi kaos saat momen mudik gratis adalah salah satunya. Mudik gratis yang mestinya untuk membantu warga, dengan anggaran dari APBD, malah digunakan buat kampanye bagi-bagi kaos bertuliskan Anies Presiden.
Coba bayangkan, prestasi dia tak punya, lha kok nekat nyapres? Apalagi yang bisa diandalkan kalau tidak dengan modal politik identitas?Tapi siapa tahu bagi-bagi kaos sebenarnya adalah semacam ucapan perpisahan Anies dengan warganya, mengingat tahun ini dia lengser. Lewat kaos ia sedang memaksa untuk dikenang. Kepanikan memang bisa membuat seseorang nekat berbuat konyol.
Memang sangat berbeda jika harus membandingkan Anis dengan Ganjar Pranowo, yang namanya juga selalu bertengger di berbagai lembaga survei kredibel calon presiden. Kepercayaan publik terhadap gubernur rambut putih ini nyata-nyata berangkat dari kinerjanya selama ini. Publik tahu “Mboten Ngapusi Mboten Korupsi” bukan sekedar tagline pemanis, namun sudah diwujudkan Ganjar selama memimpin Jawa Tengah. Komitmen itu direalisasikan Ganjar dengan merombak birokrasi Jateng yang tadinya berbelit- belit, korup, menjadi lebih efisien, cepat dan transparan.
Dengan konsistensi kerja yang semacam itu, hasilnya bisa terlihat bahwa Jateng kini jadi primadona investasi. Tak hanya perusahaan dari luar negeri, namun juga perpindahan dari berbagai provinsi yang memilih jateng sebagai tujuan. Pemerintahan yang clean and clear, tanpa berbelit-belit, tanpa pungutan dan sebagainya, tentu jadi daya tarik investor.Selain itu, sarana insfaratruktur yang dibangun Pemprov Jateng dibawah kepemimpinan Ganjar juga menambah kepercayaan investor. Kita tahu Semarang-Demak kini sedang dibangun tol.
Tak hanya urusan birokrasi, Ganjar juga terus membantu renovasi rumah tak layak huni untuk warga kurang mampu. Selama kepemimpinannya, lebih dari satu juta rumah di Jateng telah direnovasi. Harus kita akui, sangat sulit mencari sosok pemimpin yang bersih, komitmen dan punya gagasan-gagasan inovatif seperti Ganjar. Sepuluh tahun mendatang belum tentu negara ini punya duplikatnya.Silakan Anies menunggangi agama untuk kepentingan politiknya. Tapi akal sehat masyarakat Indonesia sudah tidak bisa dikotori dengan cara-cara menjijikan seperti itu. Kita lebih memilih pemimpin yang bisa bekerja, merakyat, humble, dan menghargai keberagaman Indonesia.
Sumber : Kompasiana.com











Comment