by

Angpao Anak Saat Lebaran

Oleh : Rijal Mumazziq

Fulus angpao anak sebaiknya disimpan dalam tabungan atas namanya. Bisa dibuatkan rekening, bisa juga diinvestasikan. Saya kapok menyerobot uang anak untuk kebutuhan pribadi, setelah ditegur guru saya, dimana dengan ketajaman mata batinnya mampu “mendengus” mana yang halal, mana yang syubhat, dan bahkan haram.

Bagi beliau, hak anak adalah haknya, jangan sampai dipakai ortu. Ini prinsip guru yang saya ugemi sampai saat ini. Anda setuju, silahkan. Tidak, juga nggak masalah.Bagi saya, ada dua cara menyimpan uang angpau milik anak. Disimpan statis, dan dikembangkan dalam corak investasi. Anak punya hak guna atas isi rekeningnya, tapi hak manajemen tetap ada di tangan ortu. Termasuk kartu ATM dan pinnya tetap dibawa ayah bunda. Kalaupun isi rekening mau dipakai, harus buat kebutuhan anak, misalnya baju, buku, dll. Ketika berbelanja, ajak anak juga.

Ajari dia bertransaksi. Biar dia belajar tanggungjawab atas hartanya. Ini mengajarkan sejak dini manajemen keuangan berbasis tabungan kecil-kecilan. Setelah belanja tunjukkan saldo dan print-out agar dia tahu nominal yang di bawah kepemilikannya. Juga jelaskan pola belanja sesuai dengan konsep yang kita rancang. Misalnya hanya boleh dikeluarkan dalam kondisi mendesak, hanya boleh digunakan belanja baju sekolah, buku, kebutuhan mengaji dll.

Walaupun isinya tidak seberapa di mata ortu, hanya seratus-dua ratus ribu, tapi ortu harus memenej dengan baik dan anak juga harus tahu saldo dan kebutuhannya. Belajar transparansi keuangan sejak dini dan belajar saling percaya antara ortu dengan anak.Cara kedua, dengan mengajari anak berinvestasi. Tak perlu muluk-muluk, dibelikan sepasang domba dan dititipkan ke orang yang bisa dipercaya dengan sistem bagi hasil juga oke. Ajak anak untuk sesekali melihat dombanya, biar tahu sedini mungkin soal aset, bisnis kecil-kecilan dan perkongsian.

Contoh lain, ajak anak belanja bibit tanaman pertanian, tunjukkan cara bertransaksi, dan ajari dia cara menanam. Jika tidak bisa mengajarinya pola tanam, bisa dipasrahkan ke orang lain sebagai pengelola perkebunan dengan perjanjian yang jelas: bayaran per hari atau bagi hasil saat panen, juga bicarakan perkara resiko kerugian.Ada banyak ortu yang secara etika tidak menghormati hak anak. Ada juga ortu yang gagal memenej keuangan keluarga dengan baik. Penghasilan cukup bahkan lebih dari cukup, tapi karena tidak beres dalam tata kelola akhirnya besar pasak daripada tiang. Dia tidak mampu membedakan kebutuhan primer, sekunder dan tersier.

Ada juga keluarga sederhana yang selain bisa mengelola tata keuangan keluarga, dia juga memiliki aset yang bisa diwariskan. Ini yang beberapa kali saya jumpai. Intinya, belajar manajemen keuangan rumah tangga bisa dimulai dari tata kelola keuangan milik anak-anak kita.Dah gitu saja…

Sumber : Status Facebook Rijal Mumazziq

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed