by

Anggota Dewan Sibuk Urus Vaksin, Ada Apa?

Oleh : Agung Wibawanto

Saya kira perlu diluruskan ya, sebelum “nyamping” kemana-mana terkait vaksin Nusantara (ntar isa ndledhek). Karena memang sudah sulit jika sentimen sudah terbangun tanpa kekritisan lagi. Bahkan yg mengaku relawan dan pengawal Jokowi ya sama saja. Berikut beberapa fakta terkait vaknus. : 1. Tokoh pendukungnya al: Abu Rizal Bakrie dan Gatot Nurmantyo; 2. Disponsori oleh AIVITA Biomedical dari AS, didukung Kemenkes RI; 3. Praktiknya di RS Kariadi tapi Komite Etik nya di RSPAD; 4. Menggunakan bahan-bahan impor yang diproduk di AS; 5. Transfer teknologi, artinya pelaku utama tetap orang asing;

6. Harus mengambil sampel darah dan menunggu 7-8 hari disuntikan kembali ke tubuh pemilik (kurang praktis); 7. Diyakini seumur hidup, tapi belum dapat dibuktikan; 8. Dapat digunakan oleh orang dengan penyakit sertaan; 9. Tidak melalui pra-ujiklinis kepada hewan; 10. Dibanding vaknus, maka vaksin merah putih jauh lebih tepat disebut karya anak bangsa ;11. Tidak ada penolakan oleh BPOM. BPOM hanya menyatakan belum lulus ujiklinis I; 12. Presiden Jokowi ingatkan vaksin dari manapun harus melalui prosedur ujiklinis; 13. Hingga hari ini tim vaknus belum menyerahkan hasil ujiklinis tahap I sesuai arahan BPOM; 14. Dengan itu, BPOM belum memberi rekom untuk ujiklinis tahap II. J

ika tim melanjutkan, maka diluar tgjwb BPOM.Sikap tegas BPOM RI ini mendapat dukungan dari dokter yang juga influencer Tirta Mandira Hudhi alias dr Tirta. Dalam sebuah unggahan video di Instagram, dr Tirta menyampaikan tanggapannya.Menurutnya, produk lokal seperti halnya vaksin Nusantara perlu diapresiasi, namun uji klinis yang sesuai kaidah tidak boleh dikesampingkan,

“Terlepas itu penemuan apapun dari Indonesia, kita harus apresiasi, namanya juga produk lokal,” kata dr Tirta, dikutip (atas izin) dari postingan Instagram miliknya, Sabtu (13/3/2021).”Tetapi, dalam kaitannya obat, vaksin, atau apapun yang masuk ke dalam tubuh manusia, apalagi berkaitan dengan virus, bakteri, atau apapun itu harus mengalami namanya uji klinis, ada namanya praklinis,” lanjutnya. Sama seperti vaksin lainnya, dr Tirta mengatakan vaksin nusantara juga harus melalui uji klinis sesuai prosedur yang ada di BPOM.

“Vaksin nusantara dibuat oleh pak Terawan dan kawan-kawannya ini dengan segala hormat, harus juga mengikuti peraturan yang berlaku dari BPOM. Bukan berarti apapun, tetap ikuti aturan yang berlaku kayak vaksin Merah Putih,” tambahnya. Selain itu, dr Tirta juga menyebut bahwa komisi IX DPR RI juga harus netral dalam mengawal pemberian izin tersebut. “Jadi Komisi IX DPR pun harus netral, jangan menekan BPOM harus segara izinnya keluar. Kalau izin keluar kalau yang aneh gimana,” pungkasnya.

Bekerja sama dengan Balitbangkes Kemenkes, AIVITA Biomedical melalui PT AIVITA Indonesia/PT Rama Emerald (Rama Pharma) menjadi penyokong riset vaknus, yang awalnya dinamakan ‘Vaksin Joglosemar’.Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut, vaksin berbasis sel dendritik ini menggunakan campuran sebagai berikut:Sel dendritik yang diperoleh dari darah masing-masing orangAntigen SARS COV-2 Spike Protein produksi Lake Pharma, CA, USA.GMCSF (Sarmogastrim) suatu growth factor yang diproduksi oleh Sanofi – USA.Dalam uji klinis fase I, peran AIVITA Biomedical menurut BPOM adalah sebagai berikut.Mengembangkan sel dendritikPengolahan sel dendritik membutuhkan tenaga terlatih dan sarana produksi yang memenuhi standar Good Manufacturing Practice (GMP).

Dalam uji klinis, pengolahan dilakukan oleh tim AIVITA Biomedical Inc USA, sedangkan transfer teknologi dilakukan dengan memberi kesempatan beberapa staf RSUP Dr Kariadi untuk melihat prosesnya.

Sumber : Status Facebook Agung Wibawanto

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed