by

Amburadulnya Covid Indonesia Akibat Sistem Pendidikan

Oleh : Pitoyo Hartono

Saya ingin berargumen bahwa berantakannya situasi covid di Indonesia disebabkan salah satunya oleh membolosnya bangsa kita utk melakukan investasi serius di bidang pendidikan selama berdekade-dekade.Banyaknya orang yg masih meremehkan covid, atau malah menganggapnya tidak ada, serta penolakan vaksinasi adalah salah satu sebab tidak meredanya ledakan covid di Indonesia.Pemerintah berusaha dengan cara ini itu utk menerangkan pada semua penduduk ttg seriusnya masalah yg kita hadapi dalam skala bangsa. Tapi utk orang semacam ini, fakta, data dan argumen logis tidak berarti apa2.

Jangan salahkan mereka ! Memang mereka tidak dididik utk mengolah pikiran dengan fakta, data dan jalur logika. Untuk mereka yg penting adalah percaya atau tidak !Kalau percaya, tidak peduli akan kelogisan apa yg dipercayanya, apa saja akan mereka lakukan, dan kalau tidak akan ada argumen selogis apapun yg dapat mengubah pikiran mereka.Mereka membawa segala sesuatu ke ranah iman. Kalau sudah mengimani suatu, maka tidak ada alternatif lain. Mereka tidak butuh utk mengerti, hanya butuh utk percaya lalu menerapkan kepercayaannya secara membabi buta.Kemampuan mereka utk mendengarkan argumen atas alternatif lain dari kepercayaan mereka, praktis nol.

Mereka cuma senang mengdengarkan apa yg sudah mereka percaya, dan merasa terhujat kalau ada argumen lain, sehingga tidak pernah ada informasi baru yg sampai pada otak mereka.Fakta sains utk mereka bukan apa2, semuanya ada dibawah imannya.Ini salah satunya karena kegagalan pendidikan di Indonesia. Tujuan pendidikan, bukan untuk mengimani sesuatu, tetapi utk membentuk kemampuan mengolah pikir dengan pengetahuan dasar dan alur logika yg benar. Di Indonesia, kita dididik utk menghapal, tidak peduli kita mengerti apa yg kita hapal atau tidak. Di luar hapalan itu semua salah.

Tidak ada proses utk menjejer hipotesa, dan melakukan assessment pada hipotesa2 tersebut berdasarkan fakta yg terjadi dengan argument yg benar. Senang atau tidak senang fakta itu fakta. Banyak orang Indonesia tidak bisa menerima kebenaran waktu fakta tidak sesuai dengan keinginan imannya.Sekarang di dalam situasi covid yg parah, pemerintah mati2an utk menyakinkan bahwa varian covid yg muncul sangat berbahaya, dan vaksinasi itu efisien. Ini telat ! Bagaimana negara yg tidak pernah melakukan investasi pendidikan utk membentuk logika rakyatnya lalu di masa kritis mendadak mengharap rakyat berlaku logis ?

Komentar bodoh para petinggi, termasuk presiden dan menteri2nya di awal pandemi ini, juga tidak membantu. Ingat, “cuma batuk2, nanti kan sembuh sendiri”, “minum jamu”, “minyak kayu putih solusinya” dan “pasiennya cuma dua orang apa yg musti diributkan?” Dan yg terakhir “terkendali”. Orang waras mana yg disuguhi grafik penambahan pasien yg exponensial dan dipaksa percaya kalau ini “terkendali”. Mungkin si menteri nggak mengerti arti kata “ter” atau kata “kendali”.Bandingkan dengan keterangan PM Singapura pada rakyatnya di masa awal pandemi. Pidato ini bisa diterima karena rakyat Singapura terdidik utk bisa menerima argumen yg logis.

Kalaupun presiden kita bisa melakukan hal yg sama dengan PM Singapura (yg saya tidak yakin dia bisa), efeknya pada rakyat akan berbeda. Ini beda hasil investasi pendidikan. Ini juga tercermin dari banyaknya korban di pandemi ini. Korban meninggal per 1 juta penduduk di S’pore 6.31 orang, Vietnam 3.46 orang, Korea 39.84 orang, sedangkan kita 281.57. Korban nakes kita salah satu yg terparah di dunia.Memang banyak yg lebih buruk dari kita, tapi kenapa kita harus meniru yg buruk ? Yg lebih baik dari kita juga banyak. Kita ingin berbangga karena banyak yg lebih buruk atau kita ingin menjadi lebih baik ? Banyak yg mengatakan US saja seperti itu, jadi kita ini ok2 saja.

Memang level pendidikan di US pada tingkat “atas” nya luar biasa, tapi disparitas level pendidikan juga parah. Lihatlah negara yg melakukan investasi mati2 an utk pemerataan level pendidikan seperti S’pore, Taiwan, Korea, Jepang, Finlandia. Literasi sains mereka secara rata2 jauh lebih baik dari US. Ini yg musti menjadi kiblat. Hasil pendidikan itu tercermin dalam kemampuan utk berperilaku logis. Di Indonesia banyak yg “graduated” tapi “uneducated”.Negara kita terlalu banyak melakukan investasi iman, tapi abai pada pendidikan. Negara waras mana yg mengalokasikan budgetnya utk departemen agama seperti kita, tapi pendidikannya keteter. Sebegitu mahalnya utk meng-aspal jalan ke surga ? Iman dan agama di Indonesia sudah ada di proporsi yg tidak waras.Semoga krisis ini menjadi turning point utk pendidikan di Indonesia supaya kita bisa sedikit naik kelas sebagai bangsa, bukan cuma jadi makelar lapak surga.

Sumber : Status Facebook Pitoyo Hartono

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed