Al Qur’an VS Sains Modern : Bumi Datar?

Bahkan hingga hari ini masih ada sebagian kalangan yang tetap meyakini bahwa bumi itu rata dan bukan bulat. Di antaranya adalah apa yang difatwakan oleh Syeikh Bin Baz, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, Komisi Fatwa Saudi Arabia, serta secara umum kalangan yang membaca Al-Quran secara harfiyah.

Dan ada segelintir orang yang masih saja percaya dengan aliran bumi datar, lalu mengarang banyak delusi untuk memprovokasi kalangan awam sains. Seperti menuduh NASA bersekongkol dengan Holllywood tentang pendarat manusia pertama di bulan tahun 1969.

Padahal hari ini semua kita yang hidup pakai teknologi pasti menggunakan jasa satelit. Satelit yang mengorbit bumi jumlahnya ribuan memenuhi angkasa kita. Salah satunya ISS yang mengorbit di ketinggian 450-an km dari permukaan bumi. Citra foto yang dikirimkan oleh segitu banyak satelite jelas-jelas menyuguhkan permukaan bumi yang melengkung dan tidak rata. Dan lengkungan ini ternyata adalah bukti nyata bahwa bumi itu bulat.

Apalagi di masa sekarang siapa pun asalkan punya uang cukup, bisa membuktikan sendiri dengan mata kepalanya bahwa bumi itu bulat. Caranya dengan naik pesawat ke luar angkasa bertamasya sambil nonton bulatnya bumi dari jarak yang cukup.

Sejumlah perusahaan antariksa seperti Virgin Galactic dan Blue Origin dalam mewujudkan wisata ke luar angkasa. Virgin Galactic besutan Richard Branson itu sempat dikabarkan mematok harga USD 250 ribu untuk satu tiket. Sedangkan Blue Origin, korporasi yang didirikan oleh Jeff Bezos, akan menjual tiket dengan kisaran harga USD 200 ribu hingga USD 300 ribu.

Kembali kepada ayat-ayat Al-Quran di atas, karuan saja banyak ulama mufassir kontemporer yang harus berjuang bagaimana menjelaskan ayat-ayat itu biar tidak dianggap bertentangan dengan realitas kebenaran sains modern ini.

Salah satu alternatif upaya yang dilakukan agar Al-Quran tidak bertentangan dengan sains modern, dengan mengatakan bahwa pada hakikatnya Al-Quran pun bukan kitab sains. Secara umum, Al-Quran adalah kitab yang punya nilai sastra yang tinggi, yang dengan itu Allah menantang orang Arab untuk menandingi ketinggian sastranya.

Karya sastra tidak boleh diukur-ukur dengan sains. Dalam gaya bahasa sastra, terdapat banyak perumpamaan serta banyak simbol. Sudah tidak aneh kalau dalam sastra benda-benda mati bisa ngomong dan berbicara. Sebagaimana Ebiet G. Ade mengatakan : Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Jangan dikomenin, gila luh, ngomong ame rumput. Emang rumput bisa jawab? Makanya minum obat jangan telat.

Jawabnya kita tidak gila dan tidak telat minum obat. Kita lagi bersastra. Justru ente yang aneh, sastra kok diukur pakai sains. Ya malah nggak nyambung.

Lagian di kalangan ulama juga ada pendapat yang menyebutkan bahwa Al-Quran memang bukan kitab sains. Allah SWT tidak menjejalkan Al-Quran dengan fakta-fakta sains modern. Misalnya Asy-Syatibi (w. 790 H) yang mengatakan bahwa Al-Quran diturunkan kepada umat yang ummi dan lewat Nabi SAW yang juga ummi.

Secara logika, tidak perlu lah Al-Quran disisipkan dengan fakta-fakta ilmu pengetahuan yang baru akan dipahami di abad ke-20. Toh mereka juga tidak akan paham juga.

Sumber : Status facebook Ahmad Sarwat Lc MA

You May Also Like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *