by

Ahok Dinanti Provinsi Lain

Oleh: Vladimir “Wahyu” Meurkeudeuweng

Andai Jakarta tak bijak memilih Ahok, maka provinsi lainnya “pasti” dengan senang hati menerima Ahok sebagai gubernurnya. Bila dimisalkan elite politik itu adalah semut nakal, maka Jakarta itu bak Gula yang jumlahnya tak terkira. Sekarang coba simak apa kata Ahok:

Gua memang China, tapi gua dilahirin dan dibesarin di Indonesia. Jadi apa salah kalo gua ingin membangun Indonesia bersih dari Korupsi? Ingat pepatah Tiongkok: “Sebelum bunyi empat paku di atas peti mati, kamu tidak bisa nilai orang itu baik atau buruk”.

Nanti kamu baru tahu apa yang saya kerjakan. Kalaupun gua harus mati “Memperjuangkan Kepentingan Orang Banyak”, elu kagak bisa beli cara mati gua Bosss…

Saya bilang ke istri: “Apapun yang terjadi, kamu jangan pernah menyalahkan Tuhan”. Tuhan nggak pernah salah. Kalo saya nanti mati karena melawan korupsi, tulis di pusara saya: “Mati adalah Keuntungan”. Jika perlu pakai 3 bahasa, Indonesia, Mandarin dan Inggris, itupun kalau mayat saya ketemu. 

Jika kepalanya (pimpinannya) lurus, maka yang di bawahnya tidak berani untuk tidak lurus. Kami melakukan pendidikan politik untuk menyadarkan rakyat agar memilih pemimpin yang bersih, transparan dan profesional, bukan memilih karena diberi baju kaos atau uang.

Yang dibutuhkan pemimpin “bukan” suara rakyat saja, tetapi bagaimana mendapatkan hati rakyat. Lalu memotivasi pemuda-pemuda idealis, terdidik serta mampu secara ekonomi untuk tidak apatis. Bukan sebaliknya mengatasnamakan Tuhan tetapi menikmati hidup atas penderitaan rakyat miskin

Anda tak perlu angkat senjata atau menyabung nyawa seperti pejuang kemerdekaan dulu. Cukup jangan korupsi saja, itu sudah menolong negara. Karena orang miskin atau yang kurang beruntung akan terus ada sampai kiamat. Tapi tak selamanya orang miskin dilupakan, untuk itulah Pemerintah seharusnya ada .

Mereka itu “Munafik”. Curi uang rakyat dan main ceweq diam-diam itu dikatakan tidak dosa. Jika sistem demokrasi kita nggak pilih orang baik, maka orang tidak baiklah yang Berkuasa. Saya sudah MUAK dengan semua kemunafikan itu. Setiap hari harus dengar keluhan warga, seakan selama ini negara tak pernah ada.

Jangankan dipanggil Angket, dipanggil Tuhan saja, saya udah siap koq. Saya tau risiko melawan arus di Republik ini. Kalau KPK sampai menersangkakan saya dengan alasan tidak jelas, berarti takdir saya juga melawan oknum KPK. Top banget, republik ini saya lawan semua. 

Saya akan berhenti jadi pemimpin jika semua pejabat berkelakuan baik. Bicara saya memang kasar, tapi saya takan pernah mencuri Uang Rakyat. Haknya rakyat dibajak sekelompok politisi. Sekelompok orang yang mengaku mewakili rakyat. 

Saat ini banyak kepala daerah yang tidak memikirkan rakyat. Kepala daerah yang dipilih DPRD hanya konsentrasi bagaimana caranya agar anggota dewan senang, Agar pertanggungjawabannya dapat diterima dan menjaga posisinya tetap aman.

Yang namanya Bupati, Walikota dan Gubernur itu enggak pernah ngurusin rakyat. Dia cuma mikir ngurusin DPRD. Makanya DPRD jadi raja. Karena itu rakyat memberontak, lagipula kita enggak merasa diwakili DPRD koq. Saya siap pasang badan. Saya Siap Mati demi membela kepentingan masyarakat Jakarta. Jika ada yang macam macam, SAYA YANG HADAPI..!

(Sumber: Facebook)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed