by

Agama yang Terus Dimanipulasi

Oleh: Supriyanto Martosuwito

Mengritik pembangunan masjid tidak berarti anti masjid. Menyoroti perjalanan ibadah haji bukan anti haji. Sebagaimana menyoroti orang shalat di tengah jalan, tak berarti kita anti shalat.

Secara keseluruhannya, mengritik praktik tafsir dan penerapan ajaran agama yang keliru dan manipulatif, bukan anti pada agama.

Pada kenyataannya, para jemaah terus dimanipulasi, dipompa dengan dakwah menyesatkan, sehingga umat kehilangan kesadaran, hilang daya kritis, akal sehat, bahkan berubah menjadi militan, fanatik membabi buta. Serupa zombie.

Ustadz Suparman Abdul Karim dan Ustadz Islah Bahrawi, yang sekarang sedang giat mendakwah Islam Nusantara dan Islam Moderat, menyatakan mereka yang membunuh para sahabat Nabi adalah orang orang yang hapal Al Quran, tak pernah putus shalatnya, namun gila kekuasaan, dan nafsu akan duniawi.

Mampu membaca dan hapal Al Quran pada semua juzz-nya, tak menjamin akhlak mulia menyertainya.

Pembunuhan keji, tak terbayangkan oleh manusia beragama, dilakukan oleh orang orang yang dekat dengan Nabi, yang taat ibadah – dan telah menjadi catatan sejarah kelam.

SELAMA ratusan tahun, umat Muslim menjalankan ibadah shalat dengan petunjuk alam. Sebelum matahari terbit shalat Subuh, saat matahari tegak shalat Dhuhur, cahaya bergeser ke barat shalat Adzar dan setelah matahari terbenam shalat Magrib. Menjelang tidur shalat Isya. Tengah malam shalat Tahajud.

Lalu jam dan petunjuk waktu yang akurat ditemukan – notabane penemunya bukan kaum muslim. Maka, penanda awal ibadah shalat lebih akurat, hingga jam dan menitnya. Penetapan waktu yang pas menjadi prasyarat bahkan bagian dari sahnya ibadah dan praktik keIslaman. Penentuan ketepatan waktu datangnya 1 Syawal dan Idul Fitri kerap berbeda tafsir antara ormas satu dan lainnya.

Selama ratusan tahun, Islam maju pesat menguasai Eropa, Afrika dan Asia Tenggara – hingga mengalami zaman keemasan – tanpa rekayasa pengeras suara. Mereka berdakwah lewat kegiatan dagang dan pengajaran yang sewajarnya melalui perilaku, akhlak mulia, tutur kata para pendakwah, dari mulut ke mulut. Melalui lembaga pesantren yang didirikan, di kemudian harinya.

Lalu teknologi pengeras suara ditemukan dan dijadikan produk industri – notabene penemunya seorang Pastor Khatolik Ordo Yesuit dari (Society of Jesus – SJ) dan industrinya dikembangkan sejak 1943 oleh warga Jepang.

Kini megaphone dan speaker merk Toa (produksi ‘Toa Corporation’) berkembang menjadi instrumen dakwah Islam, yang ketika dipersoalkan dianggap sama mempersoalkan agama Islam. Dianggap anti Islam!

Kasus kerusuhan karena mempersoalkan bisingnya Toa di masjid, pernah terjadi di negeri kita.

INDONESIA tercinta, notabene jauh dari jazirah gurun pasir, sedang didorong menjadi provinsi jauh Kerajaan Arab Saudi, sebagai wilayah jajahan baru, dari sisi spiritual dan ekonomi – dimana warganya menjadi takzim dan tunduk pada semua yang berbau Arab, dan masyarakat yang ekonomya pas pasan didorong untuk menabung agar pergi ke sana. Menambah devisi negeri mereka.

Ironinya, hal itu berlawanan dengan ajaran Islam yang inti, bahwa Allah SWT adalah pencipta alam semesta, yang ada di mana mana. Allah menciptakan manusia dan makhluk lainnya dengan bermacam suku, warna kulit, dan bangsa yang sama harkat dan martabatnya, tidak ada pengistimewaan pada warna kulit dan rasnya. Bahwa Allah Maha Pencipta ada di sekitar kita, bahkan lebih dekat dari urat leher umatNya.

Mengapa untuk mendapat berkah-Nya, meminta petunjuk dan mukzizat dariNya, kita harus menempuh perjalanan jauh dan menghabiskan banyak biaya ke negeri gurun pasir sana ?

SEIRING kemajuan ekonomi dan dakwah yang gencar siang dan malam, niat ibadah haji khalayak terus meningkat. Darinya, terakumulasi uang yang amat sangat banyak. Di sana godaan para pengelolanya datang, setidaknya bisnis tumbuh subur dengannya, dan manipulasi juga dilakukan – aksi yang tak terhindarkan.

Ketika majelis ulama dan pendakwah terus mengingatkan pada umat agar menghindari zat haram masuk tubuh kita, manipulasi haji dan korupsi uang amal, terjadi. Uang haram dari korupsi bisnis haji dan pencurian dana amal, jadi halal.

Ketika hubungan seks tanpa nikah diharamkan – bahkan dalam Al Quran ada ancaman hukuman rajam – perkosaan terjadi di pesantren marak dilakukan. Dan para pelakunya orang yang paham agama, pengasuh pesantren dan para ustadznya, notabene pendakwah Islam.

Di masa kini, dengan kekuasaan yang dimiliki para kepala daerah, membangun masjid dijadikan proyek untuk memanipulasi warga; proyek pencitraan, demi menutupi praktik korupsinya. Ditahbiskan dan dinisbatkan sebagai “warisan” (legacy) saat menjabat, yang bernuansa pamer (riya) untuk menipu masyarakat dan menipu Tuhan.

Dengan membangun rumah ibadah yang megah di tengah kota, Rumah Tuhan bagi umat pilihanNya, maka terhapus semua dosa dan kejahatan para kepala daerah saat menjabat dan berkuasa. ***

PS – Di kalangan umat Kristiani, saya dapat anekdot, tentang sosok “Konglomerat Hitam”, yang dikenal taat ibadah dan rajin ke gereja. Teman saya, menyatakan, “Dari Senin hingga Sabtu, dia menipu warga dan masyarakat. Di hari Minggu, dia menipu Tuhan!”

(Sumber: Facebook)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed