by

Agama Tidak Bertentangan dengan Negara

Oleh : Ahmad Tsauri

Banyak yang optimis dengan masa depan “pemerintahan Taliban”, karena melihat madzhab fikih dan akidahnya. Dalam kebijakan ekonomi, mungkin akan sangat fleksibel, sama seperti Arab Saudi, karena realistis saja, tidak mungkin mengandalkan satu sumber pendapatan dari sumberdaya alam apalagi negara miskin seperti Afganistan. Tapi penerapan aturan yang diklaim berdasarkan agama Islam, seperti saat mereka berkuasa, 1996-2001 perempuan didomestifikasi sedemikian rupa, tidak boleh bekerja, tidak boleh sekolah, wanita keluar rumah harus didampingi mahram, sepertinya akan jadi ciri utama kebijakan Taliban.

Optimisme Afganistan akan lebih baik dibawah Taliban itu muncul karena juru bicara Taliban sendiri berjanji akan merubah arah kebijakan, tapi melihat gelagat mereka baru beberapa hari menguasai ibu kota Kabul, mural dan gambar wanita dihapus, tahanan ISIS al-Qaida dibebaskan sepertinya kita tidak bisa berharap banyak, setidaknya buat kehidupan warga dan perempuan Afganistan yang lebih baik. Jauh dari harapan itu. Perempuan dan minoritas akan jadi korban utama.

Ajaran Islam yang masih dipahami dengan ortodoksi lama, sangat kontekstual, ajaran yang sebenarnya bukan bagian Ushuluddin, tapi bersifat furu’, yang fleksibel, seperti ketentuan perempuan bekerja, perempuan sekolah dan perempuan harus dibarengi wali, dimana ulama kontemporer nyaris sepakat keharusan wanita didampingi wali dahulu kala lebih karena faktor keamanan lingkungan. Dimana sekarang relatif aman, kecuali di Afghanistan, kelompok Taliban sendiri yang justru membuat perempuan tidak merasa aman. Heran kalau kebijakan seperti itu dianggap sebagai wacana utama dalam penegakan syariat Islam oleh Taliban.

Saya tidak anti Islam, tapi merasa miris jika furuiyah fikih, diatasnamakan Syariat Islam yang absolut, konstan, menjadi sebab sebuah bangsa kehilangan fleksibilitas hidup, tidak tahu lagi mana yang mutlak dan relatif sehingga kehilangan daya saingnya sebagai sebuah negara lalu tidak bisa bangkit dan mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain di dunia, karena jumudnya muslim dinegara tersebut, lalu Islam dikambinghitamkan sebagai sumber kemunduran seperti Syuriah (Suni verses Syiah), Somalia, Irak, Yaman Houti Syiah verses Suni, dan tentu saja Afghanistan.Mari kita jaga Indonesia tetap Indonesia, jangan sampai menjadi Indonestan. 🙏

Sumber : Status Facebook Ahmad Tsauri

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed