by

Ade Armando dan Kewarasan Berpikir

Oleh : Budi Santoso Purwokartiko

Tadi malam anak ragilku bertanya “Ade Armando itu siapa mak? mamak tahu?” Istriku menjawab sekilas dan seadanya. Saya yang mendengarnya sangat emosi. Itu pertanyaan penting generasi muda yang harus dijelaskan apa persoalan penting kita hari ini.Setelah itu saya tanya istri, “Apa benar kau nggak tahu Ade Armando?”

“Nggak..”

“Ya ampun berapa kali aku putar youtube-nya dia, kau ikut ndengerin..”

“oh itu ya..Kirain kadrun..”

“Gimana mungkin kadrun dihajar kadrun? Harusnya kau jelaskan dengan baik, Ade bisa jadi role model yang bagus untuk anak kita”.

Entah mengapa sampai sekarang saya masih sangat menghargai orang2 seperti Ade Armando atau Deny Siregar, orang2 yang secara sukarela dan sabar mencoba memberi pencerahan kepada masyarakat dengan risiko besar. Setahu saya mereka bekerja atas inisiatifnya sendiri, tanpa dibayar. Ade Armando dan Deny Siregar (dan beberapa tokoh lain) adalah tokoh idealis yang ingin negara ini maju.

Saya masih emosi. Sore tadi kujelaskan lagi ke anakku soal siapa Ade Armando. Saya jadi makin bersemangat menjelaskan ke anak karena ada sahabat baik yang sebelumnya mengirim teks lewat WA. Teman saya bilang, ‘melihat kejadian yang menimpa AA saya jadi ingat bapak’ disertai berita tentang pengeroyokan terhadap AA.

AA sangat berani, sangat vokal dan berani menempuh risiko besar dan berbahaya untuk diri dan keluarganya. Mungkin yang mirip, kami sama2 menyuarakan kebenaran berdasarkan akal sehat, tapi saya dalam skala jauh lebih kecil. Banyak teman di FB dan WA yang satu visi. Tapi saya sangat mengapresiasi teman yg mengingatkan itu.

Malam ini saya sangat lega, sangat optimis ketika mengikuti acara “Doa dan Solidaritas Untuk Ade Armando” di Youtube, masih banyak tokoh dan masyarakat yang hadir memberi dukungan kepada beliau. Sungguh saya lega. Berpikir waras masih menjadi arus besar di masyarakat kita. Makin lega ketika mendengar doa dari berbagai tokoh agama dan keyakinan disampaikan; rasanya adem, damai. Seperti inilah seharusnya Indonesia, saling menghargai dalam perbedaan tanpa memaksakan keyakinan tertentu apalagi dengan kekerasan dan iming-iming yang tidak jelas. salam rahayu…

Sumber : Status Facebook Budi Santoso Purwokartiko

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

News Feed