Wahabi

Lantas Bedakah PKS dengan Wahabi?

Ilustrasi

Nyinyirnya Wahabi, dengan baju yang beragam ditanah air, memang turun temurun, seperti Kiai bersanad pada Nabi, nyinyirnya Wahabi juga bersanad.

Dahulu ada seorang yang menganggap Nabi tidak adil membagikan ghanimah, rampasan perang, orang ini disebut oleh Imam Syahrastani dalam al-milal wa Nihal dengan nama Dzul Khuwaishirah, ذو الخويصرة.

Membungkam Kelompok Anti Islam Nusantara

Ilustrasi

Namun keluasan cakupan al-Quran Hadits tersebut, tidak semua dimengerti umat Islam. Ada umat Islam yang memahami Islam itu hanya berdasar ayat-ayat perang saja sehingga melahirkan perilaku keras, radikal, destruktif dan anti toleran. Mereka memahami Islam, ya memang seperti itu, harus seperti itu, dan jika tidak seperti itu bukan Islam. Padahal justru mayoritas dalil dalam ajaran Islam itu berisi ayat-ayat damai, ayat ramah, ayat rahmah, ayat pencerah dan ayat kekeluargaan (ukhuwah).

Memberangus Perusak Islam

Ilustrasi
Melandaskan keyakinan bahwa HTI jelas telah melanggar konstitusi, Presiden Joko Widodo langsung mengeluarkan Perpres tentang Organisasi Masyarakat yang kemudian berubah menjadi UU Ormas. Meski HTI melakukan banding namun pengadilan telah menetapkan bahwa HTI termasuk organisasi yang terlarang. “Bukan hanya kita yang melarang HTI. Ada 15 negara Islam juga melarang HTI termasuk Arab Saudi, Malaysia, Mesir, Turkey, Iran dan lain sebagainya” ungkap Presiden Joko Widodo akhir pekan lalu.

Kejamnya Skenario Wahabi Di Belakang Prabowo

Ilustrasi
Belajar dari kegagalan cara-cara pemberontakan itu, kalangan Wahabi ini memanfaatkan alam demokrasi untuk mendirikan parpol dan merangsek masuk ke dalam birokrasi dan pemerintahan. Mereka memaksakan aturan agama Islam secara ketat hingga melanggar hak azasi warga negara yang berbeda keyakinan. Yang lebih mendekatkan Wahabi dengan Ikhwanul Muslimin adalah ketidaktundukan mereka terhadap pemerintahan negara, atas nama nasional.

Teror Mako Brimob dan Wake-up Call Atas Wahabi

Yang menarik, aqidah Asy’ariyyah ini kerap dianggap sebagai aqidah bid’ah oleh kaum wahabi/salafi ini karena soal yang sederhana, yaitu ta’wil dalam sifat-sifat Tuhan. Saya jadi tergoda untuk bertanya: Apakah ta’wil ini berada di balik sikap pengikut aqidah ‘Asyariyyah yang lebih moderat ketimbang pengikut aqidah wahabi/salafi?

Habib Ali Al Jufry, Amien Rais dan Takfirisme Indonesia

Ilustrasi

Petuah ini seakan pas dengan kasus-kasus di negeri ini. Menggunakan masjid untuk kampanye politik kekuasaan dan provoksi. Mengutib ayat-ayat dan jargon-jargon agama demi kepentingan politik kekuasaan dan kelompoknya.

Dikotomi Partia Allah dan Partai Syaiton dalam kampanye politik-kekuasaan. Padahal yang diusungnya serta lawannya bisa jadi sama-sama partai Syaiton.

Waspada Gerakan "Kembali" Pada Al Quran dan Sunah

Ilustrasi

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah bersabda bahwa salah satu tanda akhir zaman adalah diambilnya ilmu agama dari al-ashaaghir atau orang-orang muda yakni orang-orang yang mendalami ilmu agama secara otodidak (shahafi) menurut akal pikiran mereka sendiri.

Putra Mahkota Raja Salman Akui Aliran Wahabi Keliru

Ilustrasi

Kedua, dengan membuka keran kebebasan, suasana yg rileks, hidup lebih terbuka, pandangan yg moderat, perhatian dan bersahabat terhadap rakyat Saudi khususnya kaum perempuan yg selama ini dipasung adalah pendekatan dan "pencitraan" pemerintah Saudi untuk meraih simpati rakyat Saudi.

Madzhab Spesialis Tawuran

Ilustrasi

Perpecahan kubu Salafi ini juga tampak saat membaca buku “Sebuah tinjauan Syar’i: Mereka Adalah Teroris” karya Luqman Baabduh, yang juga mengklaim diri sebagai Salafi. Buku ini merupakan bantahan dari buku Imam Samudera, “Aku Melawan Teroris”. Luqman yang merupakan murid Syekh Muqbil bin Hadi al-Wad’i di Yaman, mencela gerakan yang dilakukan oleh Imam Samudera Cs, termasuk Abdullah Azzam, mentor “pejuang” Afganistan, sebagai gerakan Khawarij.

Pages