Ulama

Istana Terbuka Seperti Jaman Gus Dur, Kenapa Jokowi Dituduh Anti Islam?

Ilustrasi

Di tahun 2017, setidaknya ada 9 komunikasi dengan kelompok Islam di istana negara. Pertama menjamu Pengurus Muhammadiyah (13 Februari), menerima kunjungan Raja Salman Arab Saudi (1 Maret), bersilaturrahmi dengan pimpinan PB Al Wasliyah (4 april), bertemu tokoh dan ulama jelang pilkada DKI (17 April), Bertemu ulama GNPF MUI (25 Juni), bertemu 9 ulama panitian Halaqah Nasional (13 Juli), berkomunikasi dengan Ulama se Kalbar (27 Juli), menggelar Dzikir kebangsaan 1000 Ulama (1 Agustus), dan menemui 40 kyai dan ulama jateng (13 September).

Jangan Berlebihan Mencintai Habaib

Sebagai manusia, para keturunan (dzurriyyat) Nabi itu ada yang berakhlak sangat mulia atau ada pula yang tidak. Sangat banyak dari mereka yang mendalami ilmu agama, baik yang lahir maupun yang batin, sehingga banyak yang menjadi ulama besar, sangat terkenal luas ilmunya dan sangat berjasa bagi dunia Islam, menjadi kekasih-kekasih (awliya') Allah dan menghabiskan sepanjang usianya untuk berkhidmat kepada umat dan agama.

Sekolah Tinggi Imam Masjid (STIM)

Ilustrasi

Perlunya ikatan dinas ini biar jangan sampai mubazzir. Sudah menghabiskan duit beasiswa, kok malah pada pindah kerjaan jadi sales, tukang kredit, jualan herbal, ngobyek jadi motivator, bawa jamaah haji umroh dan pekerjaan di luar pendidikannya. Jadi harus ikatan dinas dan PNS.

Tentu harus beasiswa full. Syarat diterima sebagai mahasiswa harus :

Dakwah-Dakwah Islam

Ilustrasi

4. Mura’ah Waqi’ al-Mad’uwwin, yaitu seorang da’i harus menjadi tokoh yang aktual dan kongkrit. Dakwahnya tidak bertentangan dengan kondisi faktualnya, bahwa jika bangsa dan negaranya membutuhkan dukungannya dari segi dakwah, maka dakwahnya harus mengarah ke sana, bukan malah menjadi beban bagi bangsa dan negaranya. Tidak ada ajaran Islam yang menganjurkan ummatnya untuk membuat situasi negaranya tak kondusif apalagi tak aman.

Jadi Ulama Mana Yang Kau Bela?

Ilustrasi

Kini Kiai Ma'ruf melakukan tindakan yang sama. #Sukmawati kepepet, dia butuh perlindungan. Butuh sosok yang dianggap bisa melegitimasi penerimaan permohonan maafnya kepada umat Islam. Kiai Ma'ruf pun menjadi bemper. Tidak apa-apa, itu adalah resiko yang dihadapi beliau sebagai seorang penyeimbang, dan saya yakin beliau memahami posisinya.

Pages