tomi lebang

Siapa Anti Ulama?

Ia tewas bersama 57 santrinya -- 34 tewas bersama sang ulama dan 23 dibunuh di perjalanan menuju Takengon -- dalam pembantaian yang melibatkan ratusan aparat militer.

Teungku Bantaqiah, sang ulama, dituduh menyimpan ratusan pucuk senjata api -- tapi tak terbukti. Dan kekuasaan pun berbicara.

Pada tanggal 10 September 1984, Sersan Hermanu, seorang anggota Babinsa memasuki Masjid As Saadah di Tanjung Priok, Jakarta Utara, tanpa melepas sepatu dan menghapus tulisan anti-pemerintah di majalah dinding masjid dengan air comberan.

Salahuddin Alam

 

Di LP Maros, ia menjadi aktivis dalam pengertian yang sebenar-benarnya. Jaringan kawan-kawan di luar lembaga dimanfaatkannya dengan baik. Ia mengajak warga binaan berkebun cabe, sayur-mayur, juga kolam ikan nila dengan air yang diolah ulang dari penampungan limbah domestik. Di pojok kebun ada gazebo untuk berleha-leha menikmati hijaunya kebun. Kerja-kerja ini dibantu Dinas Perikanan Provinsi Sulawesi Selatan.

Ketulusan Tigor Silaban

 

Bukan medannya saja yang begitu sulit, daerahnya pun dicap merah: penembakan sporadis masih marak di sana. “Tapi saya sudah berjanji kepada Tuhan. Kalau saya lulus, saya ingin bekerja di pedalaman Papua yang jauh dari Jakarta. Saya ingin menolong orang, dan tidak ingin praktik,” katanya suatu ketika.

Baru beberapa bulan bertugas di Oksibil, ada dokter yang terbunuh. Ia pun diminta pindah, tapi warga setempat marah. Maklum, di Oksibil, ia satu-satunya dokter.

Ratu Markonah

Oleh: Tomi Lebang

Suatu hari di tahun 1950-an, sepasang suami istri diterima Presiden Soekarno di Istana Negara. Mereka adalah Raja Idrus dan Ratu Markonah, Raja dan Ratu Suku Anak Dalam dari Jambi, Sumatera. Sejarawan Anhar Gonggong bercerita bahwa seorang pejabat daerah yang pernah menerima pasangan raja-ratu ini menyarankan Bung Karno untuk bertemu mereka. “Raja dan ratu itu bisa membantu pembebasan Irian Barat,” kata sang pejabat daerah.

Pages