toleransi

Apa Agama Pilot?

 

Dalam suatu penerbangan malam ke Cengkareng dari Denpasar bulan Januari lalu, pesawat mendarat di tengah hujan lebat setelah sebelumnya putar-putar di langit berawan tebal karena bandara tidak aman untuk didarati. Situasi sangat mencekam. Belum pernah saya merasakan keringat dingin getir seperti itu. Ternyata saya juga takut mati, walau selalu pasrah. Di sekeliling saya sebagian besar penumpang memejamkan mata. Dari gerak tangan, banyak yang tampak berdoa. Nama ALLAH juga disebut-sebut.

Maka Menagislah Kamu Indonesia

Ilustrasi

Jangankan berelasi terhadap agama berbeda, di kalangan sendiri kita gemar menegasikan kelompok lain. Tak muncul dari kita keberanian untuk mengaku bahwa tindak kekerasan atas nama Tuhan adalah keniscayaan tafsir dalam agama mana pun yang tak bisa disangkal. Kita perlu dengan rendah hati menerima kenyataan, menjadikan itu tanggungjawab komunal.

Senjakala Kedamaian Jogjakarta?

Ilustrasi

Pejah gesang melu Sultan. Adalah teriakan ketika Sultan tunjuk siapa partai yang dipilihnya. Tak heran jika Golkar terus mendominasi Jogya selama puluhan tahun. Dalam benak masyarakat Jogya, adalah keberkahan batin mempunyai seorang Sultan. Suasana kebatinan menyebabkan masyarakat Jogya lebih lentur dalam menerima cobaan. Mengalah dan mengalah pada kekuatan yang makin lama makin menjajah, termasuk radikalisme yang jahiliyah.

Akibat Salah Fahami Makna Toleransi

Ilustrasi

Untuk itu memang tidak mudah. Langkah pertama yang amat berat dilakukan adalah meminimalisir kecurigaan-kecurigaan antar umat beragama. Sudah mafhum bahwa ekspansi agama dalam bentuk apapun pasti menimbulkan riak2 bahkan konflik. Islamisasi dan kristenisasi bisa jadi contoh. Untuk itu sudah lahir aturan main dalam bentuk hukum. Nah, sekarang tinggal usaha-usaha lain dari sisi etik. Analogi dalam aspek keselamatan di sebuah gedung, bila hukum adalah "emergency exit", etik adalah rambu2 keselamatan.

Memahami Perasaan Pemeluk Agama Lain

Ilustrasi

Seminggu setelah kedatangan, kami berafiliasi dengan gereja di kota itu, dan diperkenalkan dengan host family yang membantu kami beradaptasi. Mereka suami istri, seusia bapak-ibu saya, kelahiran Belanda, pernah tinggal di Indonesia semasa perang. Saya juga ‘diberi’ teman yang sekaligus jadi tutor bahasa Inggris, Ardith. Oh, bahasa Inggris saya sudah fasih saat itu. Sedari kecil saya dan mbakyu-adik diajar Bapak.

Pages