syafii maarif

Polisi Terus Buru Para Pemfitnah di Sosmed

Ilustrasi

Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Maarif, lahir di Sumpurkudus, Sijunjung, Sumatera Barat, 31 Mei 1935 (82 tahun), adalah seorang ulama, ilmuwan dan pendidik Indonesia. Beliau pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Presiden World Conference on Religion for Peace (WCRP) dan pendiri Maarif Institute, dan juga dikenal sebagai seorang tokoh yang mempunyai komitmen kebangsaan yang tinggi.

Ulama Itu Bernama Syafii Maarif

 

Buya pun kembali duduk di deretan bangku antri pasien. Sama seperti kebanyakan pasien lainnya. Biasanya setiap jadwal chek-up rutin, Buya mengantri seorang diri.

Sosok berusia 83 tahun itu tidak menunjukkan wajah marah meski harus antri lama. Apalagi merasa harus diperlakukan istimewa. Justru Buya tak pernah mau diperlakukan lebih dan diprioritaskan.

Mengapa Saya Bela Ahok (Catatan Eks Santri Muallimin Muhammadiyah)

 
Di Madrasah Muallimin Muhammadiyah menjadi santri selama 6 tahun saya ditanamkan bahwa amar ma'ruf nahi munkar (memerintahkan yang baik dan mencegah kemungkaran) merupakan doktrin narasi yang dipegang. Melihat kinerja Ahok, ia memiliki kesamaan dengan itu. Meskipun tidak mendapatkan dukungan, buya Syafi'i merupakan orang yang lantang membela kinerja Ahok dan meyakini ia tidak menista agama. 

Surat untuk Eep Saefuloh dari Denny Siregar

 

Dan kang Eep menjawab, "Dengan segala hormat kepada orang tua saya, guru saya, Pak Syafii Maarif... Rekonsiliasi harus dilakukan secara tuntas. Saya ingin katakan gubernur Jakarta harus bekerja dan berfikir dengan cara baru, dia harus menjadi Nelson Mandela yang setelah 27 tahun dipenjara menjadi Presiden di Afrika Selatan dia tidak membawa dendam ke kursi kekuasaannya.

Buya Syafi'i Ulama Sejati

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

 

Buya Syafii Maarif adalah seorang “buya sejati” dan ulama teladan bagi putra-putri Bangsa Indonesia. Saya tidak kenal dekat dengan Buya Syafii. Tapi sudah sejak lama saya mengamati dan memperhatikan “sepak-terjang” beliau di dunia kepolitikan nasional. Saya juga sudah lama membaca, mempelajari, dan menelaah tulisan-tulisan beliau yang sangat banyak bertebaran, baik dalam bentuk buku maupun artikel-artikel di berbagai jurnal dan media.

Bercerminlah Sebelum Mencaci Buya Sjafii Maarif

 

Oleh :  Indra J. Piliang

Sedih saya melihat Buya Sjafii Maarif diberlakukan seperti ini. Beliau setahu saya orang yang tidak gila kuasa. Ditawari macam-macam, beliau tak mau. Keberpihakan Buya Sjafii Maarif terhadap pluralisme adalah bagian dari sejarah hidupnya. Ia sejak kecil tinggal dengan ibunya, hidup bersama eteknya (bahasa Minang, tante).

Pages