sunardian wirodono

Presiden yang Baik

Sebagai pendatang baru, tidak berpartai (apapun, di PDIP dia comotan, bukan kader genetic), ia hanya anak pinggir kali. Rumah orangtuanya dua kali digusur pemerintahan orba. Si tukang kayu itu, juga tak punya cita-cita jadi Presiden. Kenapa jadi? Karena parpol mengalami jalan buntu. Bahkan untuk Megawati Soekarnoputri sekalipun. Dalam Pemilu 2014, Jokowi vote-getter, dengan triger ‘PDIP Menang Jokowi Capres!”.

Keributan dan Kesombongan Kita

Kekalahan dalam akselerasi maupun kompetisi, kemudian dikamuflase dengan sikap jumawa dan sombong. Di tingkat paling sudra, sombong sering disebabkan faktor materi. Merasa lebih kaya, lebih cantik, lebih terhormat daripada orang lain. Tapi jaman berubah, orientasi berubah, comfortable zone berubah, ngamuklah dia karena dirugikan. Mau Tommy Soeharto atau Hasjim Djojohadikusumo, bisa ngamuk karena makin susah eksis. Jalan dan pintu tertutup.

Moeldoko dan Buzzer

Bahasa Indonesia memang terasa lebih enak kalau dibacem, dan perlu. Seperti tempo, eh, tempe ding. Lebih karena sudut pandang. Kadang juga pandang yang tersudut. Jadi ngawur tak apa. Asal narasinya keren. Apalagi dengan diksi yang sastrawi.

Padahal, dalam bahasa komunikasi internet, perilaku netizen telah diamati dengan melihat kecenderungan konten dan konsistensiny. Hinga muncul definisi seperti buzzer, influencer, content creator, yang satu sama lain sangat berbeda.

Pages