sunardian wirodono

Amien Rais yang Naif

 
Soal usia, baginya, bukan masalah. Ia mengaku terinspirasi Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, yang terpilih di usia 92 tahun. “Pak Mahathir hanya satu angkatan di atas saya. Jadi, (untuk nyapres) never say no,” katanya.
 
Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi bahkan meyakinkan, “PAN serius mencalonkan Pak Amien Rais running for President 2019.” Amien Rais dinilai punya integritas sebagai pemimpin nasional. Dianggap sangat cinta rakyat dan NKRI.
 

Rindu Itu Berat, Presiden!

 

Masing-masing presiden punya tantangan, peluang dan kendala. Tetapi dengan perkembangan teknologi komunikasi, baru dalam era Jokowi status kepresidenan diragukan (oleh lawan politik) dengan berbagai cara. Isu identitas dimunculkan, bahkan fitnah, yang sebenarnya sekaligus tak mempercayai kerja-kerja berbagai lembaga negara seperti KPU, Bawaslu, MK, MA, Kepolisian, Kejaksaan, BIN, dan lain sebagainya.

Genderang Perang Telah Ditabuh

 

Secara verbal, Jokowi lebih jelas keislamannya. Tetapi keislaman Jokowi beda dengan keislaman kelompok GNPF, FPI, HTI dan para wahabiyah lainnya. Sehingga demi hal itu, mereka butuh kuda tunggang dalam pilpres, sebagai ajang atau momentum merebut kekuasaan. Seumpama mereka menang, tak ada jaminan kuda tunggang akan terus dipakai. Di situ politik dan agama dalam bahaya dan lelamisan.

Kebenaran dan Surga Hoax

 

Apakah ada dua ukuran, dua nilai, dua patokan berbeda yang dipakai? Karena itulah, dalam permainan, pertandingan, pertarungan, kompetisi, yang melibatkan lebih dari satu pihak, diperlukan aturan yang sama. Diperlukan wasit, juri, atau pengamat yang imparsial. Agar masing-masing yang terlibat mendapat penilaian adil. Bukan para pihak yang terlibat kompetisi menilai kompetitor atau lawan mereka.

Toleran Pada Intolarensi

 

Kesempurnaan dalam persepsi masing-masing, membuat semua sektor jalan padat merayap. Ketika secara teknis India menjadi industri film terbesar dunia, mengalahkan Hollywood, kita baru tahu bagaimana keras-kepala, dan persistennya India. Bikin film apa saja, lindungi negara dari Hollywood. Sementara kaum nyinyir Indonesia ribut, film kok kek gitu mulu? Hanya karena perubahan teknologi dan hadirnya anak-anak muda a-historis, lahirlah warna baru film kita lewat jalurnya sendiri.

Pages