sunardian wirodhono

Caleg dan Ampera

 

Seolah, masalah negara bisa diselesaikan Presiden semata. Dengan segala maaf, sehebat apapun presidennya. Kecuali, jika gambaran tentang top manager Indonesia sebagaimana Pak Karno atau Pak Harto jaman silam. Untungnya, Pak Jokowi Presiden yang lebih dari sekedar hebat. Dia bersama isterinya nebeng di paviliun Istana Negara, sementara anak-anaknya jualan martabak, pisang goreng, dan juga jualan kopi.

Kambing Bandot Baby Face

 

PPP parpol dengan simbol ka’bah, gabungan partai-partai berlatar Islam masa Orba, mempunyai reputasi buruk dua dekade kepemimpinan. Suryadarma Ali, ketum partai sebelum Romy, masuk bui dalam kasus korupsi Kemenag, di mana Suryadarma adalah Menteri Agama. Kepengurusan era Romy juga tak mulus, karena kemelut partai melahirkan kepemimpinan ganda dengan Humphrey Djemat sebagai ketum versi lain (dan mendukung Prabowo).

Si Dia Ketangkep Polisi Soal Persabuan

 

Tulisan ini juga tidak untuk mengadili atau menyalahkan AA. Saya mah, prihatin dengan soal obligasi politikus yang katanya gahar itu. Misal perbuatannya dulu baik, menjatuhkan pemimpin otoriter, dia patut dihargai. Jika kini dia terpuruk karena penyakit megaloman atau arogansi elitenya, ya, kasihan saja. Ini bukan soal kami, kita, mereka. Tapi memandang manusia secara proporsional. Dia ditangkap polisi karena apa.

Moral Obligation Toko Sebelah

 
Setelah diresufle Jokowi, ia kini bagian toko sebelah, lawan Jokowi. Sepertinya dia sakit, kemudian putar haluan. Soal Freeport, sebelumnya SS menyatakan; siapa yang takut, menteri (SS) atau Jokowi? Ia persis Rizal Ramli. Culas.
 
Celakanya, SS telah menebar angin. Di Majalah TAMBANG (edisi November 2015) termuat wawancara panjang lebar dengannya, soal Freeport (saya mengutip Yustinus Prastowo, di akun fesbuknya, “Sudirman Said, Siapa yang Berdusta?” 21/2).
 

Pages