sunardian

Profesor Ember dan Batu-Batu Besar

Beliau mengeluarkan ember kosong dan meletakkannya di meja. Rasa-rasanya, cuma beliau satu-satunya, profesor yang ngajar dengan membawa ember dari rumah. Karena bukan Prof. Faruk atau Prof. Suminto dan Prof Sumanto, namakan saja beliau Profesor Ember.

Beliau mengisi ember tersebut dengan batu sebesar kepalan tangan. Mengisi terus, hingga tak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan.

Beliau bertanya. "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?"

Mengapa Rekonsiliasi?

Agama terus saja dibawa kelompok ini. Mereka menghina-dina sistem ketatanegaraan kita, yang dibangun dengan nalar dan adab kemanusiaan. Dengan ilmu pengetahuan. Dengan nurani keadilan dan azas kebersamaan. Mereka menghina sistem peradilan dan konstitusi kita, dengan kata-kata curang seenak perut. Mereka menuding yang tak disetujuinya sebagai wakil setan, laknatullah, bakal mendapat azab Allah, thagut. Segala macam bentuk umpatan yang menunjukkan kesewenangan.

Detik-Detik Terakhir Prabowo

Sementara hasil situng quickly realcount yang diposting di web KPU dan hasil real-count (baru sekitar 50%), tetap konsisten tak beda jauh dengan hasil quick-count beberapa lembaga survey.

Narasi yang dibangun mati-matian bahwa "KPU Curang", kayaknya bakal jadi sekoci yang menyelamatkan kubu Prabowo. Setidaknya, jika akhirnya data dan fakta menunjukkan bahwa Pilpres 2019 dimenangkan oleh Jokowi, mereka bisa berkilah, itu karena KPU, bahkan kubu Jokowi curang.

Prabowo Semakin Ditinggalkan

Yang masih rajin dan kerja keras jadi bumper Prabowo, di samping Dahniel Anzhar Simanjuntak, Andre Rosiade, Fadli Zon dan Hasjim Djojohadikusumo, tentunya adalah Amien Rais serta Eggy Sudjana, dengan gerbong PA212 seperti Slamet Ma’arif, Al Khathath, Tengku Zulkarnaen, Yusuf Martak, beberapa orang HTI, dan tentu FPI beserta Rizieq Shihab, yang masih setia nunggu jemputan.

Hayo, Yang Rukun dan Damai

Tentu jaman berubah. Namun ujug-ujug meminta rakyat sebagaimana yang dikehendaki; Lhah, selama ini sampeyan-sampeyan ke mana saja? Kok tiba-tiba meminta rakyat rukun, bersatu, jangan terpecah belah? Bukankah kemarin rakyat sudah diminta suaranya? Tapi apa balasannya? Ada orang ngeklaim kemenangan, padahal itu melanggar aturan, dan kalian diam saja. Ada orang MUI ngomong agar quickcount ditiadakan karena mudharat, kalian juga diam saja. Bijimana?

Pages