sumanto al qurtuby

Keluguan Rakyat, Kelicikan Elite

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Saya ingin berbagi pengalaman tentang “demo massa” karena saya cukup lama menekuni “profesi” sebagai demonstran dan aktivis. Memahami “demo komunal” akan lebih baik jika menggunakan “teori piramid” karena “demo massa” itu selalu “by design”, tidak ada yang bersifat “alami”. Bisa juga menggunakan “teori panggung” karena demo massa sejatinya adalah sebuah panggung pertunjukan dimana di dalamnya ada banyak aktor atau pemain dengan berbagai peran plus sutradara dan penulis skenario.

Fatwa Tidak Perlu Dikawal

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Sebetulnya untuk apa sih “gerakan pengawal fatwa” itu? Fatwa itu tidak perlu dikawal dan tidak memerlukan pengawalan. Kalau anak-anak itu baru perlu dikawal kalau sedang main di tempat umum supaya aman dan tidak dicuri orang yang suka “menjualbelikan” anak. Orang tua yang sudah tua juga perlu dikawal kalau naik haji atau umrah supaya tidak nyasar di Makah. Pacar mungkin juga perlu supaya tidak “nyelonong” di pengkolan. Tapi kalau fatwa, buat apa dikawal? Kecuali kalau “Mbah Fatwa” itu mungkin baru bisa dikawal.

FPI Membohongi Umat Islam Lagi?

Oleh: Sumanto Al Qurtuby

Jika memang foto di bawah ini benar dari ormas yang bernama FPI (maksudku dengan FPI ini Front Pembelaan Islam, bukan Front Pelelangan Ikan he he), maka sudah jelas "ormas unyu-unyu" yang berisik kayak bajaj ini telah melakukan kebohongan publik, khususnya publik Muslim, sekaligus penistaan agama Islam dan Hadis Nabi Muhammad SAW.

Cieee Cieee Membela Ulama Nih Yeee...!

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Subhanallah betapa bergetarnya hatiku tatkala menyaksikan “mereka” mengerahkan massa dan berdemo begitu heroiknya, yang menurut mereka, demi membela para ulama yang telah dilecehkan. Sejumlah “pembesar Islam” pidato, ceramah, dan khutbah berapi-api “mengganyang” orang-orang yang menurut mereka telah menghina ulama.

Nusron Wahid Ternyata...

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Sekitar sepuluh tahun lalu, waktu saya masih kuliah di Virginia, Amerika Serikat, sebelum melanjutkan studi doktoral di Boston University, telponku berdering. Ternyata senior dan sahabat karibku Mas Ulil Abshar Abdalla yang nelpon dari Boston. Maklum, waktu itu beliau juga masih kuliah di Boston University.

"To, Nusron Wahid sedang di Washington, D.C., ada kunjungan DPR RI, minta ketemuan katanya. Kamu bisa nggak nyusul ke D.C. [sebutan Washington, D.C.]?", tanya Mas Ulil.

Suka Duka Jadi Penulis

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Sebagai seorang penulis yang sudah cukup lama menggeluti profesi ini dan sudah menghasilkan berpuluh-puluh buku dan artikel ilmiah di berbagai jurnal serta ribuan kolom-kolom pendek (baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris), saya sudah cukup kenyang dengan berbagai pujian maupun cercaan. Saya hanya senyum-senyum sendiri mendapatkan berbagai "penghargaan" pujian maupun "pitnahan" itu.

Pages