Soekarno

Kyai Abdul Malik Dan Detik-Detik Proklamasi

Ilustrasi

Namun, setelah pukul 09.50 WIB, rokok yang belum habis tadi tiba-tiba dimatikan. Kemudian berkata, ”Ayo Pak Yuti, Habib mriki (kesini)!”

Setelah itu Kiai Malik membacakan hadroh al Fatihah untuk Nabi, Sahabat dan seterusnya sampai disebutkan pula sejumlah nama pahlawan seperti Pangeran Diponegoro, Sentot Prawirodirjo, Kiai Mojo, Jenderal Sudirman dan lain sebagainya.

Mas Hasto

Ilustrasi

Tiba di Blitar saya bahagia berada di keluarga besar PDIP. FYI, saya outsider, bukan politisi di sana, tapi bisa di ribuan kader, politisi, simpatisan & pecinta proklomator itu. Bahagia saya dipercaya oleh beliau & teman2 partai ini. Malam itu saya melebur bareng tokoh2 nasional, jumpa Kiai Said yang didapuk mimpin tahlil & tawsiyah. Semua hotel & losmen fulbok. Nah, di sini kisah itu. Jujur, kalau bukan dekat mas Hasto, tim lingkaran 1 beliau, rasanya gak dapat hotel.

Jokowi, Kunjungan Presiden Indonesia Ke 2 Setelah 56 Tahun

Ilustrasi

Melihat fakta tersebut, kunjungan ini dapat dimaknai sebagai komitmen kuat Indonesia untuk dapat meningkatkan hubungan dan kerja sama dengan Afghanistan. Indonesia juga berkomitmen untuk membangun perdamaian dan mendukung kesejahteraan bangsa Afghanistan.

Iran, Indonesia dan Perjuangan Anti Amerika

Ilustrasi

Kampanye perlawanan Soekarno terhadap arogansi Amerika Serikat, adalah yang juga didengungkan Iran saat ini. Setiap melakukan aksi unjuk rasa merespon isu-isu internasional, rakyat Iran selalu menggemakan doa kebinasaan dan kehancuran untuk Amerika Serikat, Inggris dan Israel. Slogan anti mereka puluhan tahun sebelumnya telah didengungkan Soekarno dihadapan rakyatnya. "Segenap kita punya tenaga, segenap kita punya kemauan, segenap kita punya tekad, harus kita tujukan kepada hancur leburnya Amerika dan Inggris itu.

Gestapu Menghapus Satu Generasi Intelektual Indonesia

Ilustrasi

Kisah tragisnya dimulai seminggu setelah peristiwa G30S, Ia dipanggil Kedutaan Besar RI untuk melakukan 'screening', demi menyaring mahasiswa dan para intelektual yang diduga menjadi loyalis paham kerakyatan. Saat itu, menurut Soejono, mahasiswa di Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Praha sudah menduga sesuatu yang tidak beres akan menimpa tatkala mendengar kabar bahwa di Tanah Air sedang terjadi huru-hara.

Pages