shuniyya ruhama

Berguru pada Anjing

Kami santri kecil dan awam tentu jadi antipati dan cenderung jengah berhubungan dengan anjing. 

Bahkan tak jarang ada teman kami bersikap kasar tanpa belas kasih kepada makhluk yang tidak berdosa ini. 

Hingga suatu hari ada anjing malang tersesat ke lokasi kami. Tak hayal tanpa belas kasihan ada teman yang melempari anjing itu supaya pergi. Tak puas, ada yang membawa kayu dan memukulkan ke anjing tanpa ampun. 

"Penggal Jokowi" Itu Budaya Mana?

Yang sangat menarik di sini ialah bahasan dalam ranah etno terminology. Setiap etnis di muka bumi, memiliki bahasa ekspresi ketika menyatakan aspirasinya. 

Suku bangsa Nusantara, ketika mengekspresikan kegeraman hendak mencelakai orang atau kelompok, paling sadis akan menggunakan terminologi: bunuh, clurit, bacok, badik, suduk, kepruk, carok, dimassa, keroyok, gebuk, dan sejenis itu. 

Dan tidak ada satupun dari kita yang menggunakan terminologi: penggal. 

Salah Redaksi Doa Itu Biasa, Kok Ada yang Ngamuk?

 

Ibaratnya aku punya dua anak. Mas Lutfi dan Mas Bima. Mas Lutfi pingin masuk ke UGM setelah lulus SMA. Kemudian aku berdoa. Dalam doa itu aku menyebutkan semoga Mas Bima masuk UGM.

Kemudian salah satu anakku mengingatkan, bahwa aku diminta mendoakan Mas Lutfi. Lalu aku revisi doaku. Salahnya dimana?

Apakah aku bisa dikategorikan sebagai begal doa? Bukankah doa itu hubungan privat antara seorang hamba dengan TuhanNya?

Pages