saefudin achmad

Saat Ini Rakyat Lebih Takut Lapar Dibanding Covid-19

Saya mengamati gejala-gejala yang muncul di tengah masyarakat, termasuk saya sendiri. Awal muncul kasus pertama covid-19 di Indonesia, masyarakat begitu parno. Sekolah diliburkan. Beberapa kegiatan yang mengumpulkan banyak orang dicancel. Masjid untuk sementara tidak menggelar shalat jum'at dan jama'ah. Orang tidak lagi mau bersalaman.

Saatnya Mengembalikan Fungsi Masjid dan Musala

Saat itu saya mendukung himbauan ini. Memilih beribadah di rumah untuk sementara waktu tidak sampai membuat ummat Islam menjadi fasik. Saya juga berharap himbauan ini bisa benar-benar menekan penyebaran covid-19. Namun saat ini, saya ingin agar masjid dan mushola difungsikan kembali seperti biasa, tentunya dengan protokol kesehatan yang ketat. Berikut alasan kenapa sekarang saatnya masjid dan mushola difungsikan kembali:

Indonesia, Negeri dengan Umat Paling Latah

Contoh sederhana, ketika ada sebuah peristiwa viral di media sosial, netizen Indonesia akan gatal kalau tidak mengomentari. Jika itu peristiwa yang dianggap memalukan, mereka ikut mengecam tanpa perlu tahu duduk persoalannya seperti apa. Hanya modal framing berita, seolah sudah lebih dari cukup untuk mengecam dan menghakimi. 

Lembaga Pendidikan Milik Ormas Tak Peduli Bahasa Daerah?

Selain individu, tanggung jawab melestarikan bahasa daerah ada pada lembaga pendidikan yang ada di daerah tersebut. Biasanya masing-masing lembaga pendidikan terdapat mata pelajaran bahasa daerah. Saya yang orang jawa tengah, sejak SD sampai SMA ada mata pelajaran bahasa Jawa yang harus saya ikuti. Pun demikian saat saya ngaji di pesantren dimana tradisi pembelajaran di kelas masih menggunakan bahasa jawa misalnya ketika memaknai kitab kuning yang menggunakan pegon. Selain itu, ketika sowan ke pesantren juga wajib menggunakan bahasa jawa.

Ketika Kau Punya Hak Mencela, Aku Punya Hak Membela

Jokowi memang bukan presiden sempurna. Mustahil beliau tak pernah keliru dalam membuat kebijakan. Soal membuat kebijakan memang tak mudah. Banyak sekali yang harus dipertimbangkan. Belum tekanan-tekanan dari berbagai pihak. Namun saya percaya secara personal beliau orang baik. Beliau berasal dari rakyat kecil. Beliau tidak memanfaatkan jabatannya untuk menumpuk kekayaan, tidak nepotisme, apalagi bagi-bagi proyek dan jabatan untuk keluarga. Putra-putranya justru membangun usaha secara mandiri. 

Ferdian Kurang Ajar, Tapi Tak Selayaknya Diperlakukan Tak Manusiawi

Ferdian memang telah melakukan penipuan. Dia dijerat dengan Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan ancaman hukuman maksimal 12 tahun dan denda Rp 2 miliar. Ungkapan permintaan maaf darinya tapi bohong mungkin membuat publik marah dan polisi pun sangat antusias untuk segera menangkapnya.

Pages