rudi S kamri

Surat Terbuka untuk Gubernur DKI

2. Apakah Saudara tidak bisa sedikit saja menurunkan ego dan nafsu berkuasa dengan cara mau belajar dari kepala daerah lain seperti Ibu Tri Rismaharini Walikota Surabaya dalam menjaga kota dari paparan Covid-19? Di Surabaya dibagikan masker gratis secara terukur dengan tetap menjaga "social distancing" dan di sepanjang jalan banyak di jumpai hand sanitizer yang bisa digunakan masyarakat secara gratis. Beberapa hari lalu diadakan penyemprotan disinfektan ke area publik dan jalanan.

Saatnya Doni Monardo Menegur Keras Gubernur DKI

Terkait hal tersebut, Doni Monardo harus segera memberikan teguran keras kepada Gubernur DKI Jakarta yang telah mengambil kebijakan pembatasan transportasi publik yang kontra produktif terhadap upaya pemerintah untuk mengurangi potensi penyebaran virus corona dengan cara "selektif social distancing" atau pembatasan interaksi sosial.

Jangan Biarkan Negara Mengacak-Acak Ranah Privat Kita

Argumentasi para pengusul dikemas dengan niat mulia. Menurut mereka RUU Ketahanan Keluarga ini untuk menciptakan keluarga yang tangguh dan tidak rentan. Indikator kerentanan keluarga, menurut para pengusul sangat beraneka ragam. Beberapa indikator itu adalah frekuensi perceraian makin tinggi, maraknya kekerasan dalam rumah tangga marak, praktik perkawinan anak, kekerasan seksual, hingga melonjaknya angka kematian ibu muda akibat gangguan reproduksi.

Mulut Besar Yudian Menuai Badai

Kapasitas seorang guru besar rasanya tidak layak melakukan pelecehan terbuka kepada pejabat negara. Seharusnya hal itu dilakukan secara elegan, ilmiah, solutif, tertutup dan sopan. Kesan saya terhadap Yudian Wahyudi semakin melorot saat seusai dilantik, dia terlihat mencium tangan sang Boss Besar BPIP Megawati Soekarnoputri. Perilaku "terlalu sopan" tersebut bagi saya terlalu "lebay" untuk seorang pejabat negara yang setingkat menteri.

Monas Gundul demi Formula E, Cara Cerdas Abas Hamburkan Uang Rakyat

Lucunya DPRD DKI Jakarta (minus Fraksi PSI) seperti sekumpulan kerbau dicucuk hidungnya. Mereka manut aja menyetujui uang Rp 1,6 Triliun dipakai untuk kebutuhan yang tidak ada manfaatnya buat warga Jakarta. Coba bandingkan dengan Montreal Kanada yang hanya membuang anggaran Rp 486,5 Miliar untuk tuan rumah Formula E. Itu pun tahun berikutnya langsung dibatalkan oleh Walikota yang baru karena alasan tidak mau melakukan pemborosan yang tidak perlu. Sedangkan ABas seenak udelnya menganggarkan dana hampir 4x lipat dibanding Montreal.

Seberapa Hebat Nakhoda Baru Garuda Indonesia Pasca Ari Ashkara?

Salah satu yang harus dibenahi oleh Direksi baru Garuda Indonesia adalah soliditas internal yang konon sempat dicerai-beraikan oleh Ari Askhara. Semoga tidak ada lagi dualisme serikat pekerja atau ikatan awak kabin atau ikatan profesi lainnya di Garuda. Dan hal ini menjadi pembelajaran yang terbaik bagi para insan internal Garuda agar tidak membiarkan diri lagi dipecah belah seperti sebelumnya.

Jakarta Banjir Lagi, Tangkap Air Kau Kujitak, Muin Toa

Teori pembuatan jutaan biopori yang digagas Muin untuk Jakarta sudah pasti tidak akan menuntaskan kasus banjir di Jakarta akibat curah hujan tinggi. Salah penyebabnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta sudah sudah sangat minim dan kondisi pemukiman di Jakarta yang langka punya halaman luas untuk menyerap air. Disamping itu kapasitas tanah untuk menyerap air juga punya limitasi. Sehingga mau tidak mau air akan tetap menggenang kemana-mana.

Logika Aneh Sang Gymnastiar

Kali ini Gymnastiar berulah lagi. Dia mengatakan betapa beruntungnya Gubernur DKI Jakarta saat ini karena begitu banyak orang yang menghujat karena kebodohannya mengantisipasi dan menangani masalah banjir di Jakarta yang begitu tidak terkendali. Kalau patokannya seberapa banyak orang yang menghujat, seharusnya Ahok jauh lebih beruntung karena demo 212 aja 7 juta orang yang menghujat, bahkan jumlah itu akan semakin berlipat kalau dihitung orang se Indonesia yang menghujat Ahok. Jauh di atas yang menghujat Anies

Teori Tangkap Hujan Gagal, Banjir Jakarta Semakin Brutal

Sejatinya teori "tangkap hujan" Muslim Muin tidak jelek-jelek amat. Cuma salah waktu saja. Kalau teori Muslim Muin ini diterapkan di Jakarta tahun 1950 saat lahan terbuka umum dan lahan terbuka di pemukiman masih luas, mungkin masih bisa dilakukan. Tapi kalau mau diterapkan sekarang dimana ruang terbuka hijau hanya tinggal 9,98% dan minimnya halaman rumah di pemukiman Jakarta, sepertinya akan ditertawakan ahli hidrologi di seluruh dunia. Dari sosok Muslim Muin kita bisa membaca dengan jelas kualitas anggota TUGPP Jakarta. Memalukan.

Pages