rudi S kamri

Jakarta Banjir Lagi, Tangkap Air Kau Kujitak, Muin Toa

Teori pembuatan jutaan biopori yang digagas Muin untuk Jakarta sudah pasti tidak akan menuntaskan kasus banjir di Jakarta akibat curah hujan tinggi. Salah penyebabnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta sudah sudah sangat minim dan kondisi pemukiman di Jakarta yang langka punya halaman luas untuk menyerap air. Disamping itu kapasitas tanah untuk menyerap air juga punya limitasi. Sehingga mau tidak mau air akan tetap menggenang kemana-mana.

Logika Aneh Sang Gymnastiar

Kali ini Gymnastiar berulah lagi. Dia mengatakan betapa beruntungnya Gubernur DKI Jakarta saat ini karena begitu banyak orang yang menghujat karena kebodohannya mengantisipasi dan menangani masalah banjir di Jakarta yang begitu tidak terkendali. Kalau patokannya seberapa banyak orang yang menghujat, seharusnya Ahok jauh lebih beruntung karena demo 212 aja 7 juta orang yang menghujat, bahkan jumlah itu akan semakin berlipat kalau dihitung orang se Indonesia yang menghujat Ahok. Jauh di atas yang menghujat Anies

Teori Tangkap Hujan Gagal, Banjir Jakarta Semakin Brutal

Sejatinya teori "tangkap hujan" Muslim Muin tidak jelek-jelek amat. Cuma salah waktu saja. Kalau teori Muslim Muin ini diterapkan di Jakarta tahun 1950 saat lahan terbuka umum dan lahan terbuka di pemukiman masih luas, mungkin masih bisa dilakukan. Tapi kalau mau diterapkan sekarang dimana ruang terbuka hijau hanya tinggal 9,98% dan minimnya halaman rumah di pemukiman Jakarta, sepertinya akan ditertawakan ahli hidrologi di seluruh dunia. Dari sosok Muslim Muin kita bisa membaca dengan jelas kualitas anggota TUGPP Jakarta. Memalukan.

Hikayat Sueb

"Maap Kong, ane cuma nanya aja kok. Ane lagi pusing nih ngkong," ujar Sueb

"Pusing kenape ? Lagian sih loe..... sok-sokan ngikut boikot produk China. Sok tahu China dimana aje. Ke Pecinan Glodok aje loe baru lewat doang," ujar si Engkong.

"Terus ane harus gimane ngkong, ustadz ane nyuruhnya begitu," sanggah Sueb

Ketua PA 212 Keluarkan Perintah Boikot Produk China. Kelar Hidup Lo

Sampai di rumah salah seorang dari mereka yang berjenggot 14 helai itu mengajak anak istri dan tetangganya untuk kumpul di rumah petakan: "Hari ini saya masuk TV, kita protes perlakuan Pemerintah China kepada saudara muslim kita Uighur," ucapnya berapi-api. Sambil menunggu berita TV dia makan nasi yang dimasak istrinya dari rice cooker merk Yong Ma.

Remuk Redam Kemunafikan Diterjang Badai Damai Natal

Mari kita bayangkan seorang kadrunwati yang sepanjang acara terpaksa harus mendengarkan musik dan narasi Natal yang penuh sukacita. Hatinya gundah, harga dirinya remuk redam, mau nekuk muka tidak ada nyali. Akhirnya yang dilakukan hanyalah tatapan kosong tanpa roh kemanusiaan. Jiwasrayanya eh jiwanya merapuh tak tersentuh, hilang terbang menatap kerlap-kerlip lampu Natal yang memenuhi gedung SICC.

Ibu

Ibu adalah orang yang pertama kali menuntun kita untuk membuka jendela dunia. Dalam kesabaran yang panjang merentang, Ibu mengajari kita mengeja huruf demi huruf makna kehidupan. Dari jemari tangannya kita selalu diusapi selaksa matra pengharapan untuk tidak mudah menyerah, patah dan rebah.

Ibu kita adalah pejuang dan pahlawan kehidupan. Sujud syukur dalam runduk doa kita panjatkan, kiranya Ibu kita selalu dalam pelukan cinta Illahi, selamanya.

Jiwa Gersang Seorang Felix Siauw

Yang menjadi pertanyaan saya mengapa selalu ada orang-orang yang begitu mempersalahkan dan mendikte keimanan orang lain. Karena menurut saya untuk mengembangkan rasa kasih dan toleransi tidak perlu dalil yang terlalu rumit. Cukup menjadi manusia yang sebenarnya saja. Ikut bahagia apabila saudara atau sahabatnya sedang berbahagia. Dan juga sebaliknya.

Pages