Reuni 212

Umat Yang Dibawa Demo Berjilid-jilid

Islam politik  (baca: Islamisme) sering menggunakan kata “umat” sebagai branding,  yang tujuannya tidak lain untuk mengaduk-aduk emosi para audience. Memainkan emosi di media sosial merupakan cara efektif untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hasilnya bisa dilihat sendiri, hanya dengan waktu singkat, mereka bisa mengumpulkan dan memobilisasi anggota, demi tujuan dan kepentingan politik mereka.

Benarkah Reuni 212 Menaikkan Keimanan?

Ilustrasi

Betapa ngoyonya sampai harus menggadaikan motor. Terus setelahnya kudu bekerja keras untuk nebus. Besok melek mata, besok dan besoknya besok lagi nyatanya presidennya masih Jokowi. Opo ndak nyesek Uda? Wih apa di benaknya sudah membayang surga dengan menuntun anak-anak ke Monas? Jadi teringat para perempuan di Arab yang selalu memboyong anak-anaknya sholat subuh di Masjidil Haram dan An Nabawi. Ketika takbiratul ikram paduan suara tangis mereka menggema indah sekali.

Level Felix Siaw, Eggi Sujana, Al Khathath Memang Narasi Ustadz Abu Janda dan Deny Siregar

Ilustrasi

Dan terjadilah yang awam ini ikut-ikutan ngamuk dengan abu janda ( Permadi Heddy Setya ), ada pula yang mengaku paling berjasa dengan NU, padahal dia sendiri tak paham dengan NU. Seolah NU butuh manusia unyu2 yang baru baper overdosis agama ini, yang levelnya baru debat kusir dengan rekan kerja satu PT. Padahal kalau otaknya mau berfikir waras, justru kita-lah yang butuh NU, bukan NU yang butuh kita.

Benarkah Felix Siaw Paling Faham Turki Utsmani di Indonesia?

Ilustrasi

Apakah Felix pernah dengar kiai-kiai khos atau sepuh NU yang sudah belajar agama dari sejak balita, yang tumbuh besar di lingkungan pesantren, yang berasal dari keluarga santri dan kiai, yang hidupnya jauh dari urusan follower FB, yang sudah berkelana ke pelosok-pelosok menemui jutaan umat dan mendidik ratusan juta orang dari masa ke masa, yang hidupnya sangat zuhud dan selesai dengan dunia? Pernah dengar?

Pembully Denny Siregar Itu Apa Kemampuannya?

Ilustrasi

Nature seorang penulis jelas beda dengan pembicara dan pendebat. Denny bukan pendebat verbal yang harus menang dan gak boleh kalah. Dia adalah pendiskusi. Dia lebih dekat dengan gaya analitis-deskriptif, bukan argumentatif. Nah orang-orang itu kan taunya cuma satu: elo ngomong, gue denger. Itu aja.

Pages