Reuni 212

Reuni untuk Anies yang Tak Pernah Pede

Kita tahu itu adalah acara politik. Bukan acara agama. Tujuannya bikin gaduh. Bikin suasana tentram jadi bermasalah.

Dari Saudi Rizieq berkoar. Menuding Jokowi. Menuding PBNU. Menuding Ahok. Entah apa maunya.

Mereka bilang Islam rahmatan lil alamin. Tapi kelakuannya boro-boro rahnat. Wong suasana sedang adem saja mereka malah memprovokasi. Mereka menggunakan agama justru untuk mencari keributan.

Reuni 212: Mengenang Jasa-Jasa Ahok

Pada masa itulah, Ahok menguatkan program-program rintisan Jokowi. Mengembangkan program inovatif dan partisipatif. Mengajak masyarakat terlibat, dengan e-budgeting, rapat terbuka, pengaduan masyarakat langsung, program qlue. Bahkan mempunyai tim sendiri, terdiri anak-anak muda fresh graduate. Mereka semacam tim intelijen untuk mendapatkan data lapangan yang akurat. 

Kampanye 02 GBK, Kampanye Prabowo Atau Reuni 212?

ilustrasi

CUMA JADI BUIH

Jadi kelompok Islam di kubu Prabowo pada nantinya hanyalah buih ombak menuju pantai. Lenyap dan tidak dianggap oleh Prabowo jika dia menang. Sebab selama ini, Prabowo memang terlihat lebih memanfaatkan suara Islam di belakangnya yang khawatir tidak punya cantelan dan tentunya penghidupan.Ketimbang berperilaku sebagai seorang Muslim.

Umat Yang Dibawa Demo Berjilid-jilid

Islam politik  (baca: Islamisme) sering menggunakan kata “umat” sebagai branding,  yang tujuannya tidak lain untuk mengaduk-aduk emosi para audience. Memainkan emosi di media sosial merupakan cara efektif untuk mendapat dukungan dari berbagai pihak. Hasilnya bisa dilihat sendiri, hanya dengan waktu singkat, mereka bisa mengumpulkan dan memobilisasi anggota, demi tujuan dan kepentingan politik mereka.

Benarkah Reuni 212 Menaikkan Keimanan?

Ilustrasi

Betapa ngoyonya sampai harus menggadaikan motor. Terus setelahnya kudu bekerja keras untuk nebus. Besok melek mata, besok dan besoknya besok lagi nyatanya presidennya masih Jokowi. Opo ndak nyesek Uda? Wih apa di benaknya sudah membayang surga dengan menuntun anak-anak ke Monas? Jadi teringat para perempuan di Arab yang selalu memboyong anak-anaknya sholat subuh di Masjidil Haram dan An Nabawi. Ketika takbiratul ikram paduan suara tangis mereka menggema indah sekali.

Pages