rekonsiliasi

Rekonsiliasu

Hatta, bisa jadi, para asu ini mungkin mendengar cerita Bharatayudha. Ketika Yudhistira mangkat ke sorga, dalam titian serambut dibelah tujuh, di mana langkahnya diikuti seekor asu. Bathara Indra mencegatnya, “Engkau boleh meneruskan langkah, masuk ke sorgaloka yang dijanjikan. Tetapi asu itu harus berhenti sampai di sini,...”

Persatuan dan Rekonsiliasi Substantif

KPU telah mengumumkan hasil Pilpres 2019 dengan peraih suara terbanyak adalah pasangan Joko Widodo dan Amin Maruf (JM) yang mendapat 55.50 persen atau setara dengan 85.607.362 suara. Sementara saingannya, Prabowo Subianto dan Siandiaga Uno (PS) mendapat 68.650.239 suara sah atau 44,50 persen dari total suara sah. Namun peta pemilih hasil Pilpres 2019 seperti terjadi penajaman yang menunjukkan polarisasi antara pemilih pasangan JM dan PS di beberapa daerah.

Bangun Tidur Lagi

Iwan Fals juga tiru-tiru, “Mentari pagi sudah membumbung tinggi. Bangunlah putra putri ibu pertiwi. Mari mandi dan gosok gigi,...” Tapi Iwan Fals dalam lagu ‘Bangunlah Putera-Puteri Ibu Pertiwi, setelah itu bukan menolong Ibunya. Iwan malah ngomyang, “Setelah itu kita berjanji. Tadi pagi, esok hari, atau lusa nanti. Garuda bukan burung perkutut. Sang Saka bukan sandang pembalut. Dan coba kau dengarkan. Pancasila itu bukanlah rumus kode buntut!”

Mengapa Rekonsiliasi?

Agama terus saja dibawa kelompok ini. Mereka menghina-dina sistem ketatanegaraan kita, yang dibangun dengan nalar dan adab kemanusiaan. Dengan ilmu pengetahuan. Dengan nurani keadilan dan azas kebersamaan. Mereka menghina sistem peradilan dan konstitusi kita, dengan kata-kata curang seenak perut. Mereka menuding yang tak disetujuinya sebagai wakil setan, laknatullah, bakal mendapat azab Allah, thagut. Segala macam bentuk umpatan yang menunjukkan kesewenangan.

Rekonsiliasi dengan Bagi-Bagi Kursi?

Dugaan saya yang lain, kencangnya kubu Paslon 02 meneriakkan kecurangan pada sengketa Pilpres di MK bisa jadi hanya strategi untuk mendapatkan perhatian dan menaikkan posisi tawar mereka kepada pemerintah. Dugaan saya sepertinya terkonfirmasi dengan adanya beberapa pernyataan dari elite kedua kubu yang mendorong terjadinya rekonsilasi. 

Politik Identitas Dan Kampanye Rekonsiliasi

Ilustrasi

Begitu mungkin pikir teman2 sebelum mendengar dan mencari keseluruhan pidato om Anies tampa tau konteks yg d bicarakan.

D sini terlihat jelas efek domino dan aftertaste dari politik perpecahan. Hasil dari 3 tahun Jakarta d tangan sang penista yg terus menerus d terpa caci maki d tambah setahun kampanye kebencian. Hal2 seperti ini menjadi "normal" bagi warga Jakarta.

Politik Identitas dan Kampanye Rekonsiliasi

Aku ambil contoh dari tokoh yg paling tidak aku sukai aja dulu biar fair yah. Om Anies.

Pidato awalnya saja, tentang "pribumi", sebetulnya hal kecil yg remeh temeh. Hanya karena asosiasi "pribumi" dengan kampanye perpecahan yg membawanya k singgasana DKI, kesalahan kecil mungil dalam pidato bisa menjadi topik hangat pembicaraan d medsos selama berhari2.

Pages