Ratna Sarumpaet

Bu Ratna , Tabahlah

Tabahkan hatimu Bu Ratna, jika palu hakim memenjarakanmu. Aku bersedia menjadi penjaminmu agar tidak masuk dalam jeruji besi.

Engkau mungkin berbeda pilihan denganku, tapi ini bukan soal pilihan politik ini soal kemanusian. Engkau tetap seorang manusia renta yang ringkih, sedih membayangkan tubuh rentamu meringkuk dalam sel yang pengap. Engkau wajib dibela atas nama kemanusian.

Menyebarkan Kebohongan Itu Tindak Pidana, RS Dikorbankan

 
Kawan saya datang ke rumah, dia melihat kaki saya bengkak terkilir, dia tanya kenapa kaki saya? Saya jawab, habis digebukin Gubernur. Padahal kaki saya terkilir karena terperosok masuk parit. Saya malu mengakuinya, maka saya berbohong atau saya jawab dengan bercanda saja. 
 

Ini Kemungkinan Alasan Diamnya Ratna Sarumpaet Atas Penganiayaan Dirinya

Ilustrasi

Pementasan itu menceritakan tentang seorang buruh perempuan yang tewas dibunuh militer hanya dikarenakan membela hak-hak buruh dan memperjuangkan kebebasan berserikat di pabrik. Sudah jamak pada Orde Baru, intervensi militer ke buruh yang ingin berserikat, berkumpul dan berpendapat. Saat itu militer menjadi kaki tangan pengusaha untuk membungkam sikap kritis karyawan. Makanya menjadi tanda tanya besar diamnya Ratna menerima penganiayaan itu.

Ratna Sarumpaet, Sebuah Tragedi dan Ironi

Dengan tidak mengurangi rasa keprihatinan saya terhadap tragedi yang menimpa Ratna Sarumpaet, bagi saya figur seorang Ratna Sarumpaet memang pribadi yang sangat tidak menyenangkan. Ucapan-ucapannya terlalu kasar dan disampaikan dengan penuh kebencian yang memang tumbuh subur di hatinya. Sosok Ratna Sarumpaet bagi saya adalah tipikal orang yang selalu merasa paling BENAR dan paling HEBAT. Sehingga sangat terlihat nyata dalam raut muka dan tingkah lakunya rasa empati sosialnya sangat rendah.

Ratna Sarumpaet Dikabarkan Jadi Korban Penganiayaan

Di jejaring media sosial, di sejumlah grup WA juga beredar foto yang memperlihatkan wajah seorang perempuan di ruang perawatan sebuah rumah sakit. Mengenakan baju pasien, dengan rambut diikat ke belakang. 

Wajahnya bengkak, kedua mata menutup dan lebam yang tampak nyata. Begitu juga bagian mulut. 

Wajah itu sedikit banyak memang mirip dengan Ratna Sarumpaet. 

Masyarakat Irrasional

Dengan susah payah saya menjelaskan tentang seluk beluk perbankan dan standar operasional bank yang berkaitan dengan penempatan dana dan penarikan dana secara international, tetap saja mereka tidak mau mengerti. Bahkan mereka anggap saya tidak paham soal apa yang mereka sedang tanyakan. Dan ujung ujungnya mereka salahkan Jokowi yang tidak ingin negeri ini makmur. Kenapa?

Tanggapan Buat Ratna Sarumpaet Yang Mempersoalkan Asal-Usul Pak Jokowi Jelang Pilpres 2019

Alasannya kenapa kok bisa berubah pikiran? Nazar mau jalan kaki Jogja-Jakarta PP ga jadi ditunaikan juga ga jelas kenapa, padahal udah janji di tvone secara live. Ketahuan dong kalau kubu bu Ratna itu kubu politik yg ga jelas. Apa pantes sih orang yang seneng ikut geng yang ga jelas nuntut orang lain musti serba jelas segala urusannya? Munafik ya munafik. Tapi jangan kelewatan gitu dong, bu Ratna. Anda mustinya yang waras dong kalau mikir itu.

Aktivis Kemanusiaan dan Kapal Tenggelam

 

Jika kejadian kecelakaan di lautan, kapal-kapal berteknologi tinggi dari luar atau dalam negeri bisa dikerahkan.

Tapi jika kejadian di Danau, bagaimana membawa kapal-kapal berteknologi itu ke dalam danau? Lewat udara? Lewat do'a? Di gotong dengan 7 juta manusia?

Tapi, apapun alasannya "si ibu kemanusiaan" nggak mau peduli.

Selebriti Jaman Old Yang Memalukan

Keduanya sama2 "pembenci Jokowi", dengan barang dagangan yang sebenarnya selalu sama. Intinya semua salah Jokowi, entah itu berhubungan atau tidak secara langsung dengan Jokowi. Sejak zaman Pilgub anti Ahok, Proyek Serial 212, dst dst. Dan saat ini keduanya memiliki panggung (atau tepatnya proyek) yang sama bernama #2019gantipresiden. Sangar? Tidak sama sekali! Ndagel, tapi sungguh memalukan.

Pages