rasisme

Bastian dan Kebenaran yang Setengah

Ilustrasi

Absennya jawaban dari pertanyaan diatas membuat kita seperti memilah fakta sesuai dengan keinginan kita dan kita anggap itu mewakili sebuah kebenaran yang total dan kita setuju dengan semua yang diceritakan sang paman. Pemilahan fakta seperti ini menurut saya adalah kebenaran yang setengah. Kebenaran yang setengah adalah hoax.

Akuilah Rasisme Itu

 

Secara sadar, tiap orang sudah pasti menjadi non rasis. Tentu saja ini pengaruh kontrol sosial, etika, dan norma di masyarakat. Tidak ada orang yang mau dirinya dicap rasis oleh sekitarnya karena itu hal yang buruk. Secara sadar semua pasti menghindari itu. Tapi ujian sesungguhnya bukan saat itu, bukan saat kita sadar, melainkan saat kita di bawah situasi yang direspon secara refleks atau spontan. Maka itulah indikasi wajah kita sebenarnya.

Saya dan Tionghoa

Sempat beberapa waktu tidak saling sapa, namun justru setelah itu kami jadi lebih akrab, dan sering berkomunikasi. Baik lingkungan saya yang Jawa ataupun keluarganya yang Tionghoa, sama-sama saling menjaga jarak. Seolah kalau berteman antara Jawa dan Tionghoa itu adalah sesuatu yang tabu. Namun akhirnya dengan komunikasi yang baik, kami akhirnya bisa sama-sama lebih paham budaya masing-masing.

Rasisme itu Jahiliyah

Termasuk Malcom X muda, yang sangat semangat dan punya talenta dalam berkomunikasi dan berorasi, yang kemudian berangsur menjadi wajah utama dari NOI. Ada ribuan orang bergabung NOI setelah tertarik dengan retorika yang disampaikan Malcom X. Namun Malcom X sendiri kemudian mengalami reformasi pemikiran, bahwa bukan rasisme ala NOI yang menjadi solusi.

Rasisme Terang-Terangan di UGM

Oleh: Made Supriatma
 

Rasisme Terang-terangan di UGM: Sejak kasus penembakan oleh Kopassus di penjara Cebongan, saya mendapati Yogyakarta yang lain. Tiba-tiba dia menjadi kota yang asing untuk saya. Saya meninggalkan kota yang pernah saya huni tiga belas tahun ini ketika Suharto jatuh. Dan, sejak itu tidak pernah kembali kecuali untuk kunjungan singkat.

Pages