prabowo

Berebut Memetik Mahar

 

Mungkin begini. Jika sudah dapat surat rekomendasi maka La Nyalla bisa 'menjajakan' surat itu ke banyak pengusaha untuk dimintakan bantuan. Jadi gak perlu keluar duit sendiri. Sementara Prabowo juga ngerti, rekomendasi partai miliknya bukan barang murah. Bayar dulu dong. Dalam kacamata yang lain masalah ini hanya soal siapa memanfaatkan siapa.

Menyetop Mahar Politik

Ilustrasi

Melihat kenyataan praktek politik menjelang Pilkada yang sedemikian kotor ini saya jadi berpikir keras bagaimana caranya ke depan bangsa ini keluar dari praktek-praktek politik transaksional seperti ini.

Lalu sayapun kemudian menemukan jawabannya, bahwa seharusnya biaya kampanye Pilkada tak seharusnya dibebankan pada sang calon melainkan pada partai pengusungnya.

Dibohongi Pake Anies Baswedan

Ilustrasi

"Mungkin itu cara Tuhan menyayangi negeri ini dengan mengamankan Jokowi. Karena target kelompok ini sebenarnya adalah Jokowi. Ahok hanya sasaran antara. Dan seandainya Ahok yang menang, gejolak itu takkan berhenti bahkan mungkin berlanjut hingga saat ini. Lha wong Ahok sudah dipenjara masih ada acara reuni? Sekaligus ini pelajaran bukan hanya buat warga (pemilih) DKI agar kedepannya lebih menggunakan akal sehat.

Catatan Untuk Kecebong

Ilustrasi

Pembunuhan karakter ini juga akan diiringi nama-nama alternatif baru yang seolah-olah "lebih baik" dari Prabowo. Perkara maju lewat jalur politik (partai mana) adalah urusan belakangan. Yang penting figurnya bisa di jual dulu dan akan berujung pada transaksi klasik, yakni "Adakah yang berminat jadi bandar?" Pada akhirnya tetap pada tentang "Siapa Memanfaatkan Siapa".

Prabowo Mengikuti Jejak Soeharto

 

Maka, kekuatan politik Islam Masyumi yang dulu tersingkir dikumpulkan. Mereka diwadahi, di antaranya ke dalam ICMI. Mereka juga menyebar di partai-partai di politik yang ada, termasuk di Golkar. Mereka sangat modern, tetapi sektarian. Pada umumnya, karena ingatan kolektif yang masih terus menerus dirawat dalam pikiran, mereka menyimpan kekhawatiran terhadap pengaruh Kristen dan Cina/Tionghoa dalam ekonomi politik Indonesia.

Terima Kasih untuk Para Cukong Penyedia Mahar Pilkada

 

Semua hal itu tidak kasad mata, tidak terlihat. Publik hanya bisa melihat apa yg tampak di permukaan. Apalagi tentang keberadaan "Mahar politik" itu benar benar sulit dibuktikan. Juga tidak akan diakui oleh pelaku pelakunya. Tapi berdasar korban, terutama yg gagal, mereka membenarkan adanya "mahar" tersebut. Uang puluhan hingga ratusan milyar itu bukan selalu dari pribadi uang calon, tapi biasanya yg menyediakan dana untuk mahar politik tersebut adalah cukong atau bohir yg berkepentingan langsung dg kebijakan sang pejabat nantinya.

Pages