politik

Oposisi, Belajarlah Kalian Menghargai Pemimpin

Jokowi membuktikan berkali2 bahwa pandangan miring juga isu hitam (misal dia diisukan keturunan PKI) itu SALAH BESAR.

Kalo bukan dia Presidennya, mungkin tak akan ada 9 menteri alias hampir 40% adalah perempuan. Terbukti minimal setengahnya berprestasi tinggi. Bahkan salah satunya bahkan "hanya" seorang DO SMA tapi sanggup dibicarakan dunia internasional dengan tone positif

Lirik Lagu #2019Ganti**esiden Sarat Fitnah

Ilustrasi

Nah kalau lagu #2019 ganti presiden yang dinyanyikan barisan sakit hati, karena kran-kran uangnya tersumbat, Mardani Sera, Amin Rais, Neno Warisman, Haikal Hasan, Ahmad Dani, dan badut lainnya sangat menjijikan. Mereka menyakah gunakan musik, seni yang penuh keindahan menjadi media luapan kebencian dan provokasi.

Menciptakan Lapangan Kerja

Cara lain adalah dengan membuat proyek-proyek infrastruktur. Ada yang harus dikerjakan, ada yang bisa bekerja di situ. Berbagai proyek infrastruktur yang dibuat Jokowi menyerap banyak tenaga kerja. Lho, katanya itu cuma menyerap tenaga kerja Cina? Tidak. Saya tidak membantah fakta bahwa ada sejumlah kontraktor Cina yang bawa tenaga kerja. Tapi jumlahnya masih jauh lebih kecil dibandingkan dengan tenaga kerja lokal.

Umrah dan Strategi Politik Habib Rizieq, Prabowo

Sejatinya, berita yang diturunkan Detik tersebut bergelimang simbol. Umrah, pertama-tama, sudah menunjukkan simbol kesalehan. Prabowo dan Amien Rais seolah ingin menunjukkan diri sebagai sosok yang islami dan berada di pihak pada “umat Islam” dengan menunaikan umrah di tanah suci. Berita di Detik dipertegas dengan detail-detail: menunggu salat subuh, salat dua rakaat, tawaf dan lain-lain. Tentu semua istilah itu bukan tanpa makna.

Saat Matahari Kembar Menaungi DKI Jakarta

Dan ini yang terindikasi sedang terjadi di Pemda DKI Jakarta. Pasangan Gub dan Wagub ini dari awal tidak terlihat sebagai sebuah kesatuan kepemimpinan yang solid tapi malah sering terlihat tumpang tindih dan saling menindih. Kurang lebih 8 bulan kepemimpinannya di Balaikota DKI Jakarta sering sekali dalam satu masalah yang sama mereka mempunyai perspektif yang berbeda satu sama lain. Sebagai contoh saja dalam urusan rumah DP Rp 0, mereka bersilang pendapat cukup tajam.

Intoleransi Sudah Jadi “Tetangga” Kita, Akankah Kita Diam Saja

Rakyat yang nir daya kritis menerima begitu saja faham-faham yang anti pancasila, kembali ke Islam, upaya kristenisasi dengan alasan kebebasan berpendapat menjadikan intoleransi sebagai bibit radikalisme mendapat ruang. Padahal saat orde baru khilafiyah Muhammadiyah dan NU sudah selesai. Kini soal-soal khilafiyah dibangkitkan lagi dengan argument kembali pada Islam yang benar. Diakui atau tidak Muhammadiyah dan NU terlena dan menganggap umat mereka dewasa menyikapi hal ini.

Pages