pilpres 2019

Membaca Manuver Politik Nurmantyo

Ilustrasi

Belajar dari pengalaman Pilkada DKI 2017. Terlalu mahal ongkos sosial yang harus kita bayar. Kegaduhan, kebencian, perpecahan dsb. Sampai-sampai kita juga harus "mengorbankan" salah satu putra terbaik bangsa yang telah membawa Jakarta lebih baik, hanya karena isu SARA dalam Politik Identitas. Bayangkan jika hal yang sama terjadi dalam skala nasional. Padahal Jakarta yang masyarakatnya relatif rasional dan terdidik, dampak "kerusakannya" begitu terasa.

Ambang Batas 20% Bikin Lawan Jokowi Ngeper

Berikutnya, koalisi Demokrat dan PAN memang tidak cukup syarat untuk mengajukan kandidat (19.7 %). Tapi bukan hal yg mustahil lobi politik mampu menarik minimal 1 partai pendukung PT. Toh keluar dr koalisi bukan hal yg haram saat Pemilu. Apalagi sejauh ini, koalisi PDIP yg sudah teruji solid adalah dengan Nasdem dan Hanura.

Tanoe Sang Tangan Tuhan

 

Dikabarkan oleh Alan Nairn, melalui pemberitaan Tirto, Tanoe ini ikut memperkeruh upaya pendongkelan Jokowi. Dengan kata lain, ia memainkan peran kunci untuk secepatnya merobohkan tampuk pimpinan tertinggi Negara ini. Atau setidaknya ikut memulai berdirinya rezim baru secepatnya tanpa menunggu pemilu berikutnya. Bersama gerombolan Cendana dan Cikeas, kabar anyir itu sempat begitu santer. Lalu hilang tanpa bekas.

Amien Rais : Jika Ahok Tidak Dipenjara, Jokowi Akan Dilengserkan

Oleh : Stefanus Toni Aka Tante Paku

Energi bangsa ini terkuras dan terbuang sia-sia dalam beberapa bulan ini karena aksi demo berjilid-jilid sebagai cara "perlawanan" dengan dalih BELA AGAMA, padahal di baliknya yang terjadi adalah aksi tidak tunduk dengan HUKUM di Indonesia. Karena cara-cara mereka memaksakan kehendak dengan ancaman dan ceramah di Masjid-masjid demi menguasai negeri ini atas dasar satu agama yaitu Islam versi kelompok mereka yang merasa paling benar.

Pages