Pilkada

Islam Politik, Calon Non Muslim dan "Post Truth Politics"

Bagi saya pribadi, fakta-2 tersebut tentu sangat menggembirakan dan saya syukuri, karena berarti politik identitas, yang berwujud primordialisme dan sektarianisme, khususnya yang menggunakan agama, tidak menular ke wilayah lain seperti yang terjadi di DKI dalam musim Pilkada tahun ini. Lebih jauh, fakta-2 tersebut juga menunjukkan betapa tidak konsistennya pihak-2 yang selama ini menggembar-gemborkan "fatwa" MUI tsb, padahal mereka menjadi bagian dari parpol-2 Islam tsb.

PSI Janji Berikan Rp 20 Juta untuk Laporan Politik Uang yang Terbukti

Grace mengatakan bahwa kompensasi Rp 20 juta itu adalah cara untuk mengatasi politik uang yang selama ini minim pelapor dan sulit dibuktikan. Grace menampik jika kompensasi ini disebut melawan politik uang dengan uang.

“Ini stimulus awal, tapi paling penting asalah partisipasi semua stakeholder (instansi terkait), mulai dari masyarakat hingga media,” kata Grace.

Dan Tuhan pun Ikut Pilkada

Ilustrasi

Saya perhatikan memang hanya sejumlah (ingat: SEJUMLAH) "ustad ngeles", serta tokoh agama yang nyambi jadi politisi dan politisi yang berlagak seperti agamawan di Jakarta (dan sekitarnya) saja yang hobi gembar-gembor melarang kaum Muslim memilih paslon non-Muslim (Ahok) sambil menakut-nakuti dengan dalil ini-itu, fatwa ini-itu. Karena Jakarta, mereka jadi berisik.

Pilkada dan Bencana Keberagaman Kita

Ketika Tuhan diseret ke dalam ranah politik, maka tak pelak agama akan menjadi jalan tol bagi munculnya praktik politik yang tidak mendewasakan. Wajah agama seketika menjadi layu karena ajaran-ajarannya dipolitisasi demi kepentingan tertentu. Agama yang sejatinya menjadi way of life yang menawarkan kesejukan bagi pemeluknya, seketika menjelma sebagai segugus doktrin yang penuh intrik dan kekejian. Di sinilah bencana keberagamaan akan muncul.

Nota Keberatan, Tangis Ahok dan Pelacuran Ayat Suci

Ilustrasi

Oleh : Annisa Fitrianda Putri

Bagaimana jika kita semua, pada dasarnya adalah pelacur?

Pagi 13 Desember 2016 terasa tak biasa. Bahkan atmosfer ketidakbiasaan sudah terasa sejak malam sebelumnya. Ada obrolan mengiba di ruang-ruang obrolan virtual pun nyata. Prediksi bagaimana Sang Panglima menghadapi pengadilannya esok hari (meski baru pembacaan dakwaan saja). Akan setegar apakah ia, akan selemah apakah ia?

Ini "Sindiran Telak" Ni Luh Djelantik Pada Haters Ahok

ilustrasi

Buat kaum juara sensi sedunia yang banyak kirimin saya pesan "horor" ditambah gambar-gambar hoax mengerikan sambil mengata-ngatai saya bahasa Ragunan, terimakasih ya.
Maaf ya mas/mbak/pak/om/adik/kakak, prinsip hidup saya gak bisa diganti. Sampeyan nyuruh saya jualan sandal saja, gak usah ikut-ikutan politik dan sampeyan bilang nanti usaha saya bangkrut kalau gak bisa netral atau kalian juga bilang kalau saya vokal bersuara karena ada unsur titik titik alias saya mau mendompleng jadi ngetop wkwkwkwkwk.
Helloooo...sampeyan baik-baik saja kan?

Nafsu Menyeret Ahok Ke Penjara

Basuki Tjahaja Purnama

Oleh Muis Sunarya

Drama kasus Ahok tentang al-Maidah 51 berakhir klimaks. Demo anti-Ahok benar-benar terjadi kemarin. Tujuannya satu, menyeret Ahok ke penjara. Dengan begitu usaha menggagalkan Ahok sebagai cagub DKI Jakarta tercapai.

Bukan sok tahu atas apa yang belum atau bakal terjadi, tapi menurut persepsi saya yang awam tentang realitas politik, yang konon sulit ditebak. Bukan juga mendahului tukang survei. Tapi berdasarkan pada arus politik dan kepiawaian Ahok dalam beberapa peristiwa yang menggoyangnya.

Pages