Pilkada

Penolakan Yeni, Signal Prabowo Tak Layak Capres?

Ilustrasi
Ketiga, Salah pilih di Jakarta. Paska terpilihnya Anies – Sandi di Jakarta bukannya menguntungkan malah merugikan partai. Lihat saja sejak dilantik sampai saat ini polemik terus menerus terjadi. Mulai dari hal sepele administrative hingga hal-hal yang substansial yang jelas-jelas nir keadilan. Kita tahu soal salah kostum, penghapusan video rapat gubernur, kantor gubernur ditutup tirai, pengalihan pengaduan dari gubernur ke tingkat kelurahan.

PDIP Amankan Pilkada di Jawa dari Intoleransi

Ilustrasi

Di Jateng..
PDIP sebenernya bisa mengusung cagub sendiri. Karena tak mau Jateng lepas dan pede yang sedikit mengendur, PDIP berusaha menggandeng parpol laen. Terutama pemegang suara NU, yaitu PKB atau PPP. Gus Yusuf dari PKB atau anak mbah Maemoen Zubair sudah sejak sebulan lalu didekati.

NU Jatim Gagal Diobrak Abrik

Ilustrasi

Imam Besar Kerusuhan yg semula digadang-gadang bakal menjadi satu-satunya lubang untuk bisa masuknya tiga partai tersebut menembus Jawa Timur telah pergi tanpa ada kejelasan kapan dirinya pulang, tiga partai inipun makin poyang-paying tidak karuan ketika lamarannya ditolak oleh Putri Sang Guru Bangsa. Jelas saja sang putri itu menolak, karena ia dari kecil tidak terbiasa didik sebagai biang kerusuhan. Merasa dirinya khawatir tidak bisa menjadi biang Kerusuhan akhirnya ia menolak lamaran tsb.

Pilkada 2018, Incaran Kaum Wahabi Kuasai Indonesia

Ilustrasi

Mereka mencoba memasukkan kader-kadernya untuk menjadi pemenang di setiap wilayah dan daerah, untuk menyatukan suara pada puncak pesta demokrasi bangsa ini yaitu Pilpres, untuk memuluskan visi dan misi mereka yaitu NKRI Bersyari'ah atau Khilafah dapat berdiri tegak, karena dari daerah, wilayah sampai pusat sudah dikuasai para kader-kadernya yang sudah mereka pasang sebelumnya.

Politik Identitas

Ilustrasi

Sekali lagi, orang mencari kesamaan identitas dalam berkawan, berbisnis, dan berpolitik, itu sangat wajar dan sah. Tetapi ketika yang terjadi adalah manipulasi dan politisasi, sama saja dengan membohongi rakyat dan merendahkan martabat agama. Mengapa itu terjadi? Mungkin seorang calon tidak cukup percaya diri dengan modal integritas, popularitas, dan kompetensinya, sehingga mesti mencari cara lain untuk membeli suara rakyat.

Kang Dedi Urang Lembur

Ilustrasi

Penaku tak henti bergerak di atas kertas putih, seolah tak dapat menahan diri untuk mencatatkan apa yang dapat dirasakan ketika membuntuti perjalanan Kang Dedi selama berada di tengah-tengah rakyatnya saat itu.

Kang Dedi tidak pernah mencoba beralasan lelah, lagi sibuk, dan sedang pertemuan rapat penting, ketika ada rakyat kecil datang menghampiri.

Pages