Pilkada DKI

Saat Ahok - Djarot Kalah Quick Count 2017

ilustrasi

Pendukung Ahok melakukan hal yg jauh lebih elegant. Kirim ribuan karangan bunga sbg dukungan moral dan ucapan terima kasih. Mereka mndukung kemana langkah Ahok berpijak termasuk saat divonis hukuman 2 tahun penjara. Para pendukung dan relawannya tetap setia memberinya dukungan moral.
Tidak ada klaim apapun.

Inilah cara elegant dan demokratis dari seorang politikus sejati.

Jangan Jadikan Daerah Kami Seperti DKI

 

Ya. Semua mata dan telinga rakyat Indonesia melihat dan mendengar betapa gaduh dan bising Pilkada DKI.
Dari mulai hujatan-hujatan kedengkian kedengkian, makian kafir/bidah/musrik, bukan saja kepada Non Muslim, namun saudara muslim_nya pun dihujat dan dimaki jika berbeda pilihan dengan mereka.
Ayat Al-Qur'an yang notabene masih multi tafsir menjadi komodity, bau anyir jualan mayat masih terasa menyengat hingga kini.

Saya Menolak Move On

 

Jika Pilkada hanya sekedar perhelatan politik lima tahunan, saya memang gak mau memikirkannya lagi. Saya setuju perhelatan itu sudah selesai dan kini jakarta memiliki Gubernur baru. Itu faktanya. Bagi saya sendiri yang bukan bagian dari tim sukses, bukan termasuk organ relawan dan bukan warga Jakarta juga, gak ada urusannya terus menerus berkubang dengan menang dan kalah dalam Pilkada yang lalu.

Pilkada DKI, Intimidasi dan Ali Syariati

Seorang kawan bercerita, bagaimana ada seorang bocah perempuan yang terus menangis meminta orang tuanya memindahkannya dari sekolah karena setiap hari kawan sekolahnya mengolok dengan sebutan " China kafir, Anak Ahok, gantung china". Atau bagaimana ketakutannya warga komplek perumahan dengan mayoritas Thionghoa saat membaca beragam Spanduk dan ujaran kebencian " Aksi bela Islam, Ganyang China atau Usir China Komunis". Sayatan luka peristiwa 98 masih berbekas basah dalam ingatan mereka, dan ujaran kebencian itu menjadi cuka yang kembali menoreh pedih.

Pages