Pilkada

Bedah Pernyataan Eep Saefullah Dan Azrumardi Azra

Ilustrasi

Disisi lain adalah seorang cendekiawan Muslim bernama Azyumardi Azra. Dia mengimbau kepada setiap umat Muslim agar menjaga kesucian masjid. "Jangan masjid itu digunakan sebagai tempat mobilisasi politik partisan, politik kekuasaan, politik pilkada. Saya kira tak pada tempatnya itu. Saya kira itu menodai kesucian masjid.” Dia juga memperingatkan bahwa jika kampanye politik menggunakan agama terus berkelanjutan, Indonesia terancam mengalami nasib yang sama seperti negara-negara di Timur Tengah.

Decency

Ilustrasi

Dia ini meski ibunya pakar etika tapi mannernya jeblok. Pose becandaan mengesankan dia ini selalu merasa insecure, kekanak-kanakan, sembrono sekaligus protektif. Jika terdesak, bicaranya kampungan. Bahasa dan kata-katanya tidak baku dan sering menggunakan bahasa pasar termasuk intonasi dan bahasa tubuhnya. Empty talk hasilnya. Seperti pojok jomblo atau dp nol persen. Nol besar, ngibul dan ngawur.

Sebuah Catatan untuk Ridwan Kamil

Ilustrasi

Di Jawa Barat meraka yang moderat biasa diidentikkan dengan kaum nasionalis, sedangkan mereka yang konservatif radikalis biasa diidentikkan dengan kaum pentungan yang ingin merubah Pancasila dengan Sistem Khilafah. Itu sebabnya kelompok yang terakhir ini gemar turun ke jalan dan menolak Perppu No.2/2017 yang dianggap mengancam misi besar kelompoknya.

Siapa Percaya Anies Baswedan Bicara Toleransi?

Ilustrasi

Bermodalkan sebuah raport merah korban reshuffle kabinet bersiap mendayung kapal sekocinya untuk mengarungi jakarta yang luas dan buas .. dari sekoci sang pria paruh baya mendapatkan banyak dukungan untuk mengarungi lautan .. Para investor yang tak lain adalah orang yang disakiti oleh kebijakan sang Gubernur lama memutuskan memperlengkapi kapal sang mantan menteri ini dengan senjata lengkap berupa meriam meriam berisi iri , dengki , dan kebencian ..

Kita Putuskan Mata Rantai Itu

Rakyat Jakarta 'pernah' merasakan bagaimana keberadaanya direken oleh pemerintah. Kita berharap kata 'pernah' tidak pernah terjadi. Artinya, siapapun yang akan memimpin Jakarta nanti rakyat tidak lagi cuma dihitung sebagai obyek. Tetapi justru dianggap sebahai subyek yang nyata.

Kita tahu bahwa Pemilu seringkali meninggalkan bekas yang panjang. Pilpres yang baru lalu membuktikan ada orang-orang yang tidak mau move on menghadapi kenyataan. Ada yang tidak bisa beranjak menerima hasil dari proses elektoral.

Muslim Memilih Paslon Non-Muslim? Kenapa Tidak?

Dulu juga tidak ada Undang-Undang atau peraturan lain yang membatasi kekuasaan eksekutif. Bahkan negara-negara mayoritas Muslim yang memakai sistem monarkhi pun (baik itu kerajaan, kesultanan, keamiran, dlsb) tidak lagi bersifat absolut karena mereka juga punya "lembaga dewan", ada undang-undang, memakai sistem pemilihan umum (meskipun terbatas di sejumlah negara).

Pages