perkosaan

Perkosaan Karena Perempuan Tak Berjilbab Itu Bohong

 

Negara-negara Barat umumnya , jika tidak semuanya, sangat longgar dalam bertata-busana karena ini bagian dari hak-hak invidu tetapi bukan berarti perempuan bisa dilecehkan dan diperkosa seenaknya. Jangankan memperkosa, ngomong dikit yang bernada melecehkan seksualitas perempuan, jika mereka tersinggung, kalian bisa dibui dan berurusan dengan polisi.

Hijab, Aurat dan Perkosaan

Oleh : Sumanto Al Qurtuby

Saya perhatikan sejumlah kelompok Islam, dalam menyikapi setiap kasus kekerasan selalu menyalahkan perempuan sebagai akar masalah. Menurut mereka, berbagai kasus perkosaan terjadi karena kesalahan perempuan yang tidak bisa menjaga aurat. Dalam logika konyol mereka, jika kaum perempuan menutup auratnya dengan hijab dan jilbab (apalagi menutup wajahnya dengan niqab), maka perkosaan tidak akan terjadi.

Orang-Orang Linglung

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Indonesia ini, entah bagaimana menyampaikannya dengan kata-kata. Terlalu banyak hal konyol berkembang-biak. Kadang saya ingin diam. Tapi diam saja tidak cukup. Soal kasus perkosaan, ada orang-orang dungu yang menjadikannya bahan candaan. Selera humor yang aneh, bahkan cenderung sakit. Mereka tidak berpikir bagaimana jika keluarganya dibegitukan. Tapi ketika kasus ini dianggap serius oleh negara, ada orang-orang yang juga menanggapinya dengan sinis. Hukuman tambahan bernama kebiri kimiawi dianggap hal konyol.

Soal Perkosaan, Kenapa Perempuan Selalu Disalahkan?

Oleh: Sumanto Al Qurtuby
 

Dalam kasus-kasus perkosaan, kenapa perempuan yang sering, atau bahkan selalu, disalahkan? Bukankah mestinya laki-laki bejat itu yang harus dikutuk? Kenapa perempuan yang menjadi korban yang diolok-olok dan bukannya laki-laki si pelaku kejahatan itu yang harusnya dikucilkan? Kenapa sebagian masyarakat malah mencibir perempuan yang diperkosa, bukan laki-laki pemerkosa?

Mengebiri Pemerkosa

Oleh: Kajitow Elkayeni
 

Hukuman bagi pemerkosa, umumnya sangat ringan. Dalam tradisi kita, kebanyakan malah hanya dikawinkan. Masyarakat kita tidak menimbang bagaimana perasaan korban. Bagaimana ia harus menghadapi trauma itu, saat ia dipaksa hidup bersama pelaku. Harga diri, nama baik keluarga, keperawanan, dianggap jauh lebih penting untuk diperjuangkan.

Pages